Do you believe in luck?

Apakah anda percaya akan adanya nasib baik?
Saya percaya bahwa nasib baik adalah interseksi antara ilmu probabilitas, usaha keras dan doa dari niat yang tulus. Dua kali ini kami dikaruniai nasib baik, Alhamdulillah.

Nasib baik pertama ketika kami berpergian naik bus 17 jurusan Rialto untuk berbelanja mingguan. Seperti biasa ketika berangkat, ayah menggendong Rania, dan Bunda membawa tas ransel dan karung goni kosong untuk wadah belanjaan *guys, ini beneran karung goni, bukan majas litotes* πŸ˜€

Terkadang, Rania sangat anteng di bis, atau bisa jadi ia sangat aktif (red: nangis teriak2) dikala bosan. Saat itu, dia lumayan aktif sehingga kami tidak sadar bahwa kartu leap untuk transportasi bis punya ayah terjatuh di kolong kursi bis. Saat turun dari bis pun, tidak ada penumpang yang tahu dan kami pun juga tidak tahu >_<

Setelah berbelanja selama sekitar 40 menit, kami menaiki bis nomor yang sama namun arah berkebalikan untuk mengantar kami pulang ke rumah. Bis sudah terlihat di depan mata, kami mulai menyiapkan kartu bis. Disitulah kami mulai sadar bahwa kartu bis ayah sudah raib. Cek koin, ada. Yasudah, berniat untuk bayar bis menggunakan koin saja. Kami bersiap untuk mengurus klaim kartu leap sesampainya di rumah.

Saat naik ke bis, bapak sopir berambut putih yang familiar itu menunjukkan kartu leap ayah di depan ruang sopirnya sambil tersenyum lebar πŸ˜€ Whattt, ternyata bis yang kita naiki saat berangkat dan pulang adalah sama. Plus, sopirnya masih mengenali kami dari foto di kartu leap bis yang terjatuh di bis nya ketika berangkat belanja. Plus, kami tidak jadi mengurus klaim kartu leap. Plus, sekarang kami jadi selalu teringat dengan bapak sopir berambut putih yang sukanya tersenyum lebar bila melihat kami πŸ˜€

Nasib baik? Yap!

Mungkin beda cerita bila kami berbelanja terlalu cepat atau terlalu lama sehingga tidak berjodoh dengan bapak sopir tersebut.

Mungkin beda cerita bila tidak ada orang baik yang menemukan kartu leap jatuh dan memberikannya ke bapak sopir. Banyak kasus juga sih, setelah ditemukan kartunya, malah dipakai sendiri saldonya oleh si penemu.

Mungkin beda cerita bila ayah dari awal tidak memasang fotonya di kartu leap, sehingga tidak dapat dikenali milik siapa kartu tersebut. ^_^

Nasib baik kedua, kami alami dua hari ini. Ceritanya, setiap warganegara non EU diwajibkan memperpanjang izin tinggal di Irlandia setiap periode waktu tertentu. Untuk kami, setiap tahun harus melapor diri dan memperpanjang izin tinggal. Pengalaman dari tahun kemarin, satu antrian online hanya berlaku untuk satu nama, sehingga kami mengambil dua tiket antrian online di hari yang berbeda. Antrian online bertujuan untuk memilih tanggal saja, sedangkan di hari H nya nanti, ada antrian fisik yang bertujuan untuk mengantri di bilik administrasi.

Antrian online tahun ini dikelola oleh kepolisian langsung, berbeda dengan tahun kemarin yang dikelola oleh kampus, sehingga kami tidak bisa berdiskusi dengan leluasa kapan tanggal yang bisa kami ambil. Sialnya, ayah Rania sebagai dependant saya, justru dapat tiket antrian yang 2 hari lebih awal daripada saya yaitu tanggal 18. Selain itu, saya tidak dapat mengambil antrian lagi untuk tanggal yang lebih awal dari tanggal 18, bila antrian ayah yang saya mundurkan setelah tanggal 20, maka kami tidak masuk range tanggal memperbarui kartu (dalam durasi 2 minggu sebelum due date tanggal 31 okt), opsinya bisa jadi denda atau mengurus visa ulang atau entahlah >_< Sehingga yasudahlah, kami mengambil 2 tiket tersebut dan pasrah di hari H yaitu tanggal 18 dan 20.

Dua hari yang lalu, kami mulai datang ke kantor kepolisian dan benar saja dugaan kami bahwa dependant (ayah) tidak bisa renew kartu sebelum the principal (saya). Kami meminta solusi kepada pegawai imigrasi karena oleh sistem, kami diberi tanggal yang berbeda dan susunannya begitu padahal jelas2 sudah mengentrykan siapa dependent kepada siapa. Kami diminta menunggu sekitar 5 menit, pegawai tersebut berkonsultasi dengan seniornya. Akhirnya, kami diberi solusi untuk menukar antrian, sehingga saya didaftarkan dengan antrian atas nama ayah pada tanggal 18, dan kami harus kembali lagi tanggal 20 untuk mendaftarkan ayah dengan menggunakan nama saya. Pegawai tersebut sudah mengambil nomor antrian saya, sehingga hanya tersisa antrian ayah saja (tertanggal 18) untuk dipakai tanggal 20 nanti. Mana bisaa??

Pegawai tersebut cuma bilang kalau kami harus bisa menjelaskan duduk permasalahan ini kepada officer yang akan menangani registrasi kami dua hari lagi. Glek! Dengan bahasa inggris kami yang belepotan dan harus menggunakan grammar past tense dan future tense dengan perfect, otherwise officernya bisa pusing tujuh keliling dan tidak membolehkan kami registrasi ulang. Ohmy 😦 Yasudahlah..

Two days later, which is today!
Saya mengeprint ulang nomor antrian online saya yang sudah dibawa ama officer 2 hari yang lalu. Nekat!
Karena kami tahu ada 2 lapis registrasi, di pintu depan untuk ambil antrian fisik, dan di koridor utama untuk cek administrasi dan berkas. Saya cuma bermodal keyakinan kalau sistem antrian fisik dan sistem renew izin tinggal belum terintegrasi. Sehingga di tanggal 20 itu masih kecatat nama saya di antrian, walaupun saya sudah diregister tanggal 18. Gambling sih, klo udah integrated gimana? Worst casenya cuma disangka ngeluarin kertas antrian online yang salah πŸ˜€
Tinggal keluarin aja kertas antrian ayah yang tanggal 18 trus explain panjang lebar ke bapak petugas antrian fisik di depan soal masalah 2 hari yang lalu πŸ˜€

Masalah bapak petugas antrian fisik di depan, alhamdulillah mulus. Bener dugaan kami bahwa sistem antrian online dan renew izin tinggal belum terintegrasi πŸ˜‰

Babak kedua, petugas administrasi dan berkas di koridor utama. Ini orang2nya lebih kuat dan jeli sih. Mmmm… pasrah ajalah, lagian kami masih ingat betul bapak yang menukar antrian kami 2 hari yang lalu. Kalau beliau ndak paham dengan penjelasan kami, yah tinggal tunjuk bapak yang kemarin saja πŸ˜€ hahaha..

Kami dapat nomor antrian fisik 100, lucky number, masuk ke bilik nomor 4. Pas masuk ke bilik nomor 4, whaaattt… officernya adalah bapak yang sama dengan 2 hari yang lalu!! How come? disana ada 12 bilik sodara2, bagaimana bisahh??

Kami bersuka cita, dan tanya ke bapaknya “do you still remember us?” awalnya bapaknya bingung dan coba mengingat2, yaiyalah sehari bisa ngurusin 50 orang kalee.. ini 2 hari yang lalu, it means 100 people! Pada akhirnya bapaknya ingat kami dan kami gak harus explain panjang lebar apalagi sampai otot-ototan πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Alhamdulillah semua lancar dan tersenyum dengan lebar..

Nasib baik lagi?? Yap2!
Mungkin beda cerita kalau kami datangnya terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga nggak dapet antrian nomor 100.
Mungkin beda cerita kalau kinerja officer di bilik2 lain terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga antrian nomor 100 tidak jatuh di bilik nomor 4.
Mungkin beda cerita kalau bapaknya hari ini nggak duduk di kursi nomor 4.
Kalau mau dirunut, akan banyak peluang dari kemungkinan2 yang lain yang tidak terhingga banyaknya variabel bebasnya πŸ™‚

Namun saya tetap yakin bahwa ini adalah hasil doa dari orang-orang terkasih kami nun jauh disana, sehingga Allah menakdirkan nasib mujur seperti ini.

Alhamdulillah

πŸ™‚

Advertisements

One year in Dublin

Tepat pada hari ini setahun yang lalu, kami bertiga bermodal nekat berangkat dini hari dari Surabaya menuju Dublin.

Bagaimana tidak dibilang nekat? saat itu, kami baru saja menimang bayi kecil yang masih baru genap 3 bulan dengan berat badan sekitar 5kg. Bayi yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya setelah 2 tahun usia pernikahan kami.

Bagaimana tidak dibilang nekat? saat itu, semua biaya transportasi dan akomodasi masih nol dari penyedia beasiswa, dimana hanya Allah saja yang tahu apakah penyedia beasiswa ini akan amanah dengan memberi reimburse atau tidak. Sementara proses seleksi hanya sebatas administrasi dan kelengkapan dokumen via email saja, tidak pernah ada tatap muka dengan pemberi beasiswa. Alamat korespondensi pun tidak ada yang berada di Indonesia, paling dekat Saudi Arabia atau Amerika Serikat. Kalau pun ada apa-apa, kami hanya bisa mengadu kepada sajadah saja.

Setahun lamanya di kota ini, kami tidak pernah berpergian jauh ke luar kota. Ingin sekali rasanya kami berkelana mendaki gunung, melihat national park di kota seberang, atau mengunjungi sanak saudara baru setanah air disini. Namun, keinginan itu selalu saja terkalahkan oleh hitung-hitungan uang, dinginnya suhu atau tugas-tugas yang menumpuk. Paling jauh, kami hanya mengunjungi pantai di distrik perbatasan kota dublin. Sebutlah kami kuper, terlalu hemat atau terlalu banyak perhitungan untuk melangkah jauh, kami sudah biasa.

Tujuan dari awal kami melangkah kemari hanya untuk melihat dunia, bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya hanya bisa kami lihat di layar kaca, melihat bahwa ada manusia bermata biru, berambut pirang, berbahasa baru.

Kami tidak kaya, tidak pintar, juga tidak bijak. Kami sering salah mengira, salah melangkah, salah menerka. Kami hanyalah anak-anak pembelajar kehidupan duniawi yang mencoba melihat dari berbagai sisi, walaupun terkadang buram dan tak selamanya senang.

Seringkali orang melihat bahwa kami selamanya bahagia telah menjejakkan kaki kemari. Kami hanya bisa tersenyum mengamini. Lantas pada akhirnya, mereka juga tahu bahwa kami sebenarnya sama saja, hanya saja lebih sering ditempa atau mungkin, bisa juga tidak.

Ini hanya catatan kecil dari kami, yang tepat setahun kami jauh dari ibu pertiwi.

12042668_10206972956235964_5413629389336979471_n

:*

We only have each other, just you and me, what are we gonna do?
Do you want to build a snowman?

The Second Impression

Tulisan ini saya buat demi cinta yang datang bukan dari first impression terhadap Negara Irlandia, khususnya di kota Dublin. Ini cinta berawal dari pandangan kedua, setelah 9 bulan tinggal di sini πŸ™‚Β Biar berimbang, ada sisi positif dan negatifnya, well karena cinta ini tidaklah begitu buta :))

Positif

Berlomba mendahulukan antrian

Saya cukup sering ditawari ibu-ibu, bapak-bapak, untuk mengambil antrian mereka yang jelas-jelas lebih awal daripada saya ketika di kasir grocery shops. Saya sampai heran, saya lho masih kuat berdiri dan ngantri, wajah saya juga gak jutek2 amat untuk menunggu giliran mas kasir πŸ˜€

Setelah observasi sekian kali, barulah saya tahu bahwa itu adalah ‘manner’ mereka jika melihat siapapun yang antri di belakang mereka dengan belanjaan yang relatif ‘sedikit’. Sedangkan belanjaan mereka sendiri se trolley penuh atau lumayan banyak. Kalo sama banyaknya, hahhaha, jangan harap ditawarin duluan ya buuk πŸ˜‰

Jpeg

Ruas jalan

Berusaha ‘cukup’

Jalan raya disini rata-rata tidak begitu besar. Tapi lumayan lancar, jarang macet, padahal jumlah kendaraan lumayan banyak dan besar2 juga, terutama bis. Belum pernah saya temukan jalan di Dublin selebar perempatan jalan Kertajaya-Manyar di Surabaya :)) Jalanan disini lebih mirip jalanan di Jogja. Entah mengapa mereka disini selalu merasa cukup dengan jalan raya yang ‘hanya’ selebar itu, dan harus diparuh dengan jalur sepeda dan jalur bis (tanpa pembatas bata). Plus, jalanan ini 2 arah, bukan satu arah. Kebayang kan, gak mungkin ada mobil yang bisa nyalip tanpa ngelindes garis putih penuh. How come?

Klakson pun relatif jarang dibunyikan untuk sesama kendaraan roda empat. Seringkali klakson dibunyikan untuk pesepeda yang motong lajur bis, atau ibu2 yang nyebrang jalan dorong stroller sambil texting πŸ˜€

Toleransi seimbang

Isu toleransi memang cukup gencar di kota ini. Dimulai dari bendera pelangi, sampai untuk kaum muslimin. Mengapa saya sebut berimbang? Karena perlakuan mereka sama, baik kepada LGBT maupun kepada nun ato wanita berjilbab, sama-sama baiknya. Saya dan teman saya dari Mesir pernah mendiskusikan hal ini, dan kesimpulan kita sama: orang Irish memang aslinya baik, jadi ya kepada siapa aja baik πŸ™‚

Pernah suatu ketika bertemu dengan bapak-bapak tua duduk di Stephen Green Shopping Centre, beliau sekitar ninety something usianya. Duduk sendiri. Karena saya butuh nenenin Rania, saya tak ambil pusing duduk di sebelahnya. Setelah selesai, beliau baru buka suara. Dia bercerita bahwa semalam dia bertengkar dengan cucu perempuannya yang berusia belasan tahun, dan sekarang beliau menyesalinya. Saya pun kepo, tanya masalahnya apa. Beliau cerita, bahwa anak perempuannya seorang dokter, sekolah di Australia dan sekarang bekerja di RS Irlandia, turut membawa serta cucunya kembali ke Irlandia. Semalam, cucunya keluar dengan memakai rok mini pergi ke party jam 10 malam. Bapak tua itu marah, menyuruh cucunya untuk mengganti pakaiannya dan kembali masuk ke rumah. Namanya anak muda, berontak dan berantemlah kakek dan cucunya, dan sekarang cucunya meminta ibunya untuk kembali ke Australia 😦

Bapak tua itu bercerita kepada saya, dan menepuk pundak saya sambil bilang ‘you are more Christian than we are’. Saya hanya tersenyum sambil mengamini ucapan bapak tua itu. Mengamini bukan lantas saya mengakui bahwa saya memiliki ideologi tersebut, namun karena saya paham bahwa konteks pembicaraan bapak tua tersebut bukanlah terbatas Islam, Kristen, Yahudi atau agama-agama lain. Namun, akhlak. Siapapun bisa berakhlak baik, apapun agama atau kepercayaan mereka, dan sebaliknya.

Oke, sekarang sisi negatifnya. Ada juga toh?

Negatif

Pengemis dan peminta-minta

Negara maju identik dengan bagaimana perlakuan mereka terhadap kaum yang membutuhkan, selain itu juga dari kuantitasnya. Menurut saya, yang tidak ahli dalam bidang ketatanegaraan atau bidang sosial, semakin maju negara, semakin kecil delta si kaya dan si miskin sehingga semakin sedikit pengemisnya.

Menurut saya (lagi), Irlandia salah satu negara maju di Eropa, namun pengemisnya masih banyak. Baik pengemis yang berdandan seperti pengemis, atau pengemis yang berdandan seperti traveller sehingga dapat mengelabui petugas kepolisian setempat. Hihihi, pengemis di salah satu jalan dekat kampus saya, ada yang memakai jilbab, tapi di kotak uangnya ada kalung salib. Ini adalah contoh penyalah gunaan atribut agama! Lah trus emang harus gitu, menguliahi mereka karena menyalahgunakan atribut agama? yang mereka butuhkan hanya penghidupan yang layak dan PR untuk pemerintahan Irlandia di kasus ini masih sangat banyak πŸ™‚

Mabuk berdarah-darah

Huhuhuhu, seumur2 berpuluh tahun hidup di Indonesia, saya jaraaaang banget nemuin orang mabuk, awalnya saya berjalan di belakang punggungnya, dan tiba-tiba ia berbalik. Oh my… jidatnya berdarah-darah, huwwaaaaaa… saya pun lari tunggang langgang, tidak mempedulikan tatapan orang lain ke saya. Ambo takut, mamak.. Tapi ini baru pertama kalinya sih, ketemu di Dublin selama saya tinggal disini. Semoga jangan lagi yah, seremmm..

Pasangan sejenis

Seperti yang sudah saya ceritakan di paragraf sebelumnya mengenai toleransi, kaum homoseksual dan lesbian bebas menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. So far skor selama ini masih 1-1, 1x ketemu pasangan homo dan 1x ketemu pasangan lesbi yang lagi bermesraan. No big deal. Sama aja risihnya ketika ngeliat pasangan cowok cewek bermesraan.

Naah, sudah impas masing-masing 3, dan Rania udah bangun dari tidurnya, sekarang dia mulai ikutan ngetik di laptop, hihihi..

See ya, dear readers! πŸ˜‰

Facts about Rania!

Oh, these sunny days make everyone in this city happily ever after like how the Cinderella and Prince Charming story ends πŸ˜€

Rania several times went to Toddler groups and she is now infected by mild flu, hopefully she will be better as soon as possible πŸ˜‰ Anyway, this post records some facts about her, starting from her very beginning days living in my womb.

  • A day after taking pregnancy test and found it positive, I took her climb Padang plateau with my best colleagues.
  • We named her Olaf before we knew her gender, and changed it to Olive after doctor said that Olaf’s genital is female.
  • She was born on 17th of Ramadhan holy month which coinciding with Nuzulul Quran day.
IMG_20150705_074104

One-day old Rania

  • At the day she was born, I was going to change her name into Qurania, but I changed my mind.
  • She got her first Tahnik, by her grandma from Lamongan πŸ™‚
  • In BC calendar, she was born onΒ American’s independence day.
  • Soon after her umbilical cord was cut, she was laid down on my chest and urinated my stomachΒ instead of sucking my breast.
  • She is very calm and behave newborn, her demand when waking up in the midnight only breast milk and/or change the pants.
  • She rarely poop in daily, mostly once in 2 or 3 days. The longest strike duration was 7 days.
  • Rania has her own passport when she was 23rd day old and she didΒ not open her eyes for a second >.<
  • Her first formal photograph for visa was taken on 30th of July 2015, which is 3 weeks after her birthday.
Rania ok

Visa Photograph

  • The second loudest and longest cry after born was the first night she stayed in Dublin.
  • Her first word is ‘headset‘, happened when her uncle gave her a headset to be played with. What a gadget-lover baby!
  • She likes almost every food I made for her, her only first rejection is rice porridge, but she eatsΒ it now in daily meal.
IMG_20150808_183630

A never ending happiness, InsyaAllah!

This is going to be a longer list as she continuously grows and explores this world. I believe that at this moment, it is not only Rania who is growing, but also me and her daddy. To be more mature parent.

We love you, Rania!

Di sana Jurnal, di sini Jurnal..

Jauh dari Jurnal SISFO di kampus asal, eh saya jadi deket sama dunia perjurnalan di kampus yang baru πŸ˜€

Memang, kalo cintanya di dunia editorial gak bakalan jauh-jauh dari Jurnal. Beberapa bulan yang lalu ada open recruitment reviewer di Jurnal Postgraduate kampus. Iseng banget nyoba masukin CV ama list of publication. Gimana gak iseng, orang tugas individu saya aja dikasih komen “English!!! Need lots of improvements!”, bahahaha… yaa walaupun ujung2nya dapet grade I juga, tapi tetep percentage paling lemah di writing >.<

Yaaa, gimana ya, saya kan persebaya bonek *bondo nekat*, jadi PD aja masukin ituh CV. Eh gak taunya minggu lalu keterima jadi peer review, kayaknya mereka kekurangan peminat reviewer banget yak, sampek nerima dirikuw :p
Setelah lihat-lihat websitenya (lhaaa, masukin CV dulu baru lihat website jurnalnya :p), eh ini Jurnal 11-12 sama Jurnal SISFO: not indexed yet. Masih bagusan SISFO malah, teratur terbitnya dan tidak direview oleh orang dalam institusi saja. Ciyeeehhh.. narsiss…

Tapi dari proses review ini, saya jadi nambah referensi untuk suntingan selain di Indonesia dan sekitarnya. Jurnal sini, gak indexed juga tetep dipeer-review. Ini kan kalok di Indonesia malesin banget. Orang nggak indexed aja, ngapain harus direview? Nulisnya aja butuh usaha neng, masak pakek acara direview segala πŸ˜‰
Belum ntar hasil revisiannya di cek lagi.. ya kaaan.. #EditorCurhaaaatt

Sisi positifnya yang bisa diambil dari evaluation form Jurnal sini yaitu formnya close nggak open. Maksudnya?
Klo jurnal di Indonesia, setahu saya kan form reviewnya bagian akhir bener2 dikasih blank space untuk reviewer menumpahkan keluh kesahnya. Tapi disini enggak, dibatesin cukup top 3 saja. Jadi gak bisa nulis surat cinta panjang lebar di evaluation form, yang mungkin juga gak bakalan semua direvisi ama penulisnya.

Selain itu yang paling penting, gak cuma ‘nyacat’ doang, tapi reviewer diwajibkan untuk menuliskan top 3 stregth of this paper, which author should not lose in revision process. Nah kan, jadi fair.. Author jadi gak mutung klo papernya dikasih review dan penulis jadi termotivasi untuk merevisi. Ehehe, walaupun mutung nggak nya author tergantung dari masing-masing mental penulisnya ya..
FYI, gak cuma jualan doang yang ada ‘hit and run’ :p

Lain hal lagi, di Indonesia ada sekitar 4-5 decision options. Major revision, minor revision, borderline, reject. Disini cuman 2, Yes or No for publication. Biasanya kalau saya pas jadi reviewer lagi galau, ini paper enaknya dipublish ato enggak, saya pilih borderline πŸ˜€
Lantas ngerepotin editornya untuk cari another opinion πŸ˜€
Tapi kalo disini gak ada pilihannya neng! πŸ˜‰

One lesson learned: budaya review bergeser dari yang tadinya mentioning and elaborating flaws jadi finding constructive solutions.

Jayalah selalu perjurnalan Indonesia! Semoga suatu saat saya bisa jadi Editorial Board International Jurnal yang indexed!

*ikimestionoksingmbatinlebay
Wkwkwkwk.. Ya maaph..

Hello Spring!

Saatnya bunga mengembang, menyiapkan untuk berbuah di musim panas. Genap sudah 6 bulan kami berpetualang di negeri ini. Berikut updatenya πŸ˜‰

Jpeg

Cherry Tree inside Trinity College Dublin campus

Siang dan Malam
Ini kali pertamanya kami sekeluarga merasakan pergeseran jumlah jam siang dan malam πŸ™‚
Saat winter, maghrib sekitar jam 4pm dan subuh sekitar 9am. Sedangkan saat spring sekarang, maghrib jam 8pm dan subuh jam 5am. Huhuhuhu..
Kalau pas winter, senengnya yaitu bisa berlama-lama ngumpet balik selimut. Toh masih gelap, belum banyak yang beraktivitas segelap ini, walopun udah jam 8 pagi. Tapi malesnya, sholat dhuhur dan ashar pas winter jadi keburu-buru 😦
Naaah, pas summer, senengnya yaitu masih bisa ngelab sampek jam 6-7pm. Toh masih terang, masih banyak temen dan jalanan masih ramai lalu lalang kendaraan. Tapi, waktu tidur malam jadi berkurang 😦
Andaikan di Indonesia, tidak ada perbedaan jam yang signifikan dari hari ke hari, bulan ke bulan. Hapal waktu sholat di luar kepala. Namun, waktu serasa terhenti… dan kami jadi berhenti mensyukuri nikmat pergeseran siang dan malam.

Toddler Group Rania
Jadi pada awalnya, concern kami adalah isu insekuritas Rania yang cukup tinggi terhadap orang asing. Eventho bibinya sendiri 😦
Kalo mbah-mbah di bis wajar lah ya, klo Rania nangis ngejer. Pertama, karena dia gak familiar sama wajahnya. Kedua, karena mbah-mbah ini kalo ngudang langsung ndeketin wajah mereka ke Rania. Ibuknya aja kaget, apalagi bayii, hahaha…
Sehingga, kami memutuskan untuk membawa Rania ke tempat baru yang banyak orang asing, agar dia agak terbiasa. Toddler Group pilihan kami, jatuh ke Taney Parish Centre, bayar sih, jadi masih pengen coba-coba ke Toddler Group yang laen.
Pada awalnya, kukira Toddler Group ini semacam tempat bayi2 berkumpul lalu diberi pengarahan mengenai perkembangannya. Eh ternyata, cuman dateng, tumpahin soft toys, terus maen sesuka hati sampai 2 jam. First trial Rania, dia seneng sih. Cuma nangis sekali doang dia, selainnya happy all the day!
Pertama kali nyampek, kenalan ama Lucy (8mo). Lucy curious banget sama jilbab Rania kuning-oranye warna-warni kembang disana dimari. Ditariklah, ngeeeeekk..
Rania cuma mewek, tapi gak nangis. Mungkin Rania bingung, dia harus bersikap gimana, karena selama ini tidak ada yang menarik-narik jilbabnya. Hahahhahaa..
Kenalan kedua, ama Carla (18mo). Carla lagi crankkky abis, gegara pas itu hari pertamanya dia ditinggal mamanya kerja, yang nemenin mbahnya. Diketoklah itu kepala Rania pake mobil-mobilan plastik, huwaaaaaaa.. Rania nangis ngejer, tapi cuman bentar, habis nenen Rania happy lagi ^_^

Bunga datang dan pergi
Pas awal spring atau akhir winter, daffodil mulai mengembang. Cantiiik banget, karena pohon lain pada tinggal ranting saja. Dia jadi primadona. Eh pas Springnya, dia sudah akan layu, and wont last till summer. Tapi, dia digantikan sama kembang-kembang cantik lainnya yang lebih beragam jenisnyaa πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚
Ini photo di taman Stephen Green dan Square di kampus..

This slideshow requires JavaScript.

Kalo di Indonesia, bunga-bunga mekar seringnya sepanjang tahun. Mungkin hanya untuk species tertentu saja yang mekarnya nunggu musim tertentu.

Kesimpulannya apa dunk?

As what Master Shifu said in KungFu Panda 3
“If you only do what you can do, you’ll never be better than what you are”.

Disini lebih banyak ups and downs, dari segi cuaca, material dan lingkungan sekitar. Kalau orang bilang, merantaulah untuk merasakan perbedaan-perbedaan yang tidak kita temukan di tempat kita lahir dan besar. Gak harus ke luar negeri, ke luar kota cukup, naik ke gunung juga mungkin cukup. Ini semua akan menambah kemampuan kita untuk terus bersyukur dimulai dari hal yang paling kecil. Lalu semoga endingnya, kita jadi orang yang berbeda dan lebih baik dari kita sebelumnya πŸ™‚

Aamiin

What is your purpose of life?

These two weeks, I am lost.. Just because my professor asked me what my research question will be. I have my own topic which has been approved by her since the beginning of my interview session with her.

My professor is strong, like my mother. I love her directness in saying something, as I am not good at catching hidden meaning. But, her questions are really bugging me, not in a bad way, good way indeed. Even for answering those questions, I have my two weeks gone, how will I answer the angels’ questions in afterlife? What is your entire life dedicated for? I might only last for 30 years? 50 years? 70 years? Mayflies only have 1 day to live and what I am going to do with my ‘1 day’ if I were mayfly? I don’t have enough money or houses or knowledge as legacy to my future generations.

I keep asking for myself, why I should choose this one, do that, why not the other one? It is no longer because ‘it is what normal people do’, since I moved here, there is no ‘normal’ term. Everything changes.

Yesterday, I said to my professor, ‘is it too late that if I want to change my topic back to forex forecasting?’. I don’t know where I got this fortune-telling passion from :)) But, I just feel empty when doing forex forecasting. Totally empty.

Now, I carry something new, out of my comfort zones. Personalized Weather-related Infectious Disease Adviser System. I even don’t know how to spell build that, I just have a big dream that it will inspire somebody to build better than mine, so the generation of my daughter will be guided by those adviser system. Even after I died.

Saying that statement to my professor is just like saying that ‘I am going to surrender, should I go back to my previous life?’ #dramajuststarted

Fortunately, she said to me this wise statement ‘All this stuff are about process, you just being here for 6 months. I can say that you are not too late to do that. But, I bet that there are lots of scientist did time-series forecasting.’ She is right, plus I have no passion to continue the time-series forecasting.

All I have to do is hearing what universe is saying to me, open up all my senses and find a way to collect my shredded passion and of course literature!, seeing the smiling faces of Rania and beat this one! I don’t want going back to forex forecasting even though it will produce lots of money, I have to do something for a better future and create a legacy in which my descendants will say proudly ‘she is my ancestor!’.

Time to wake up and making that legacy! πŸ˜‰