The Second Impression

Tulisan ini saya buat demi cinta yang datang bukan dari first impression terhadap Negara Irlandia, khususnya di kota Dublin. Ini cinta berawal dari pandangan kedua, setelah 9 bulan tinggal di sini πŸ™‚Β Biar berimbang, ada sisi positif dan negatifnya, well karena cinta ini tidaklah begitu buta :))

Positif

Berlomba mendahulukan antrian

Saya cukup sering ditawari ibu-ibu, bapak-bapak, untuk mengambil antrian mereka yang jelas-jelas lebih awal daripada saya ketika di kasir grocery shops. Saya sampai heran, saya lho masih kuat berdiri dan ngantri, wajah saya juga gak jutek2 amat untuk menunggu giliran mas kasir πŸ˜€

Setelah observasi sekian kali, barulah saya tahu bahwa itu adalah ‘manner’ mereka jika melihat siapapun yang antri di belakang mereka dengan belanjaan yang relatif ‘sedikit’. Sedangkan belanjaan mereka sendiri se trolley penuh atau lumayan banyak. Kalo sama banyaknya, hahhaha, jangan harap ditawarin duluan ya buuk πŸ˜‰

Jpeg

Ruas jalan

Berusaha ‘cukup’

Jalan raya disini rata-rata tidak begitu besar. Tapi lumayan lancar, jarang macet, padahal jumlah kendaraan lumayan banyak dan besar2 juga, terutama bis. Belum pernah saya temukan jalan di Dublin selebar perempatan jalan Kertajaya-Manyar di Surabaya :)) Jalanan disini lebih mirip jalanan di Jogja. Entah mengapa mereka disini selalu merasa cukup dengan jalan raya yang ‘hanya’ selebar itu, dan harus diparuh dengan jalur sepeda dan jalur bis (tanpa pembatas bata). Plus, jalanan ini 2 arah, bukan satu arah. Kebayang kan, gak mungkin ada mobil yang bisa nyalip tanpa ngelindes garis putih penuh. How come?

Klakson pun relatif jarang dibunyikan untuk sesama kendaraan roda empat. Seringkali klakson dibunyikan untuk pesepeda yang motong lajur bis, atau ibu2 yang nyebrang jalan dorong stroller sambil texting πŸ˜€

Toleransi seimbang

Isu toleransi memang cukup gencar di kota ini. Dimulai dari bendera pelangi, sampai untuk kaum muslimin. Mengapa saya sebut berimbang? Karena perlakuan mereka sama, baik kepada LGBT maupun kepada nun ato wanita berjilbab, sama-sama baiknya. Saya dan teman saya dari Mesir pernah mendiskusikan hal ini, dan kesimpulan kita sama: orang Irish memang aslinya baik, jadi ya kepada siapa aja baik πŸ™‚

Pernah suatu ketika bertemu dengan bapak-bapak tua duduk di Stephen Green Shopping Centre, beliau sekitar ninety something usianya. Duduk sendiri. Karena saya butuh nenenin Rania, saya tak ambil pusing duduk di sebelahnya. Setelah selesai, beliau baru buka suara. Dia bercerita bahwa semalam dia bertengkar dengan cucu perempuannya yang berusia belasan tahun, dan sekarang beliau menyesalinya. Saya pun kepo, tanya masalahnya apa. Beliau cerita, bahwa anak perempuannya seorang dokter, sekolah di Australia dan sekarang bekerja di RS Irlandia, turut membawa serta cucunya kembali ke Irlandia. Semalam, cucunya keluar dengan memakai rok mini pergi ke party jam 10 malam. Bapak tua itu marah, menyuruh cucunya untuk mengganti pakaiannya dan kembali masuk ke rumah. Namanya anak muda, berontak dan berantemlah kakek dan cucunya, dan sekarang cucunya meminta ibunya untuk kembali ke Australia 😦

Bapak tua itu bercerita kepada saya, dan menepuk pundak saya sambil bilang ‘you are more Christian than we are’. Saya hanya tersenyum sambil mengamini ucapan bapak tua itu. Mengamini bukan lantas saya mengakui bahwa saya memiliki ideologi tersebut, namun karena saya paham bahwa konteks pembicaraan bapak tua tersebut bukanlah terbatas Islam, Kristen, Yahudi atau agama-agama lain. Namun, akhlak. Siapapun bisa berakhlak baik, apapun agama atau kepercayaan mereka, dan sebaliknya.

Oke, sekarang sisi negatifnya. Ada juga toh?

Negatif

Pengemis dan peminta-minta

Negara maju identik dengan bagaimana perlakuan mereka terhadap kaum yang membutuhkan, selain itu juga dari kuantitasnya. Menurut saya, yang tidak ahli dalam bidang ketatanegaraan atau bidang sosial, semakin maju negara, semakin kecil delta si kaya dan si miskin sehingga semakin sedikit pengemisnya.

Menurut saya (lagi), Irlandia salah satu negara maju di Eropa, namun pengemisnya masih banyak. Baik pengemis yang berdandan seperti pengemis, atau pengemis yang berdandan seperti traveller sehingga dapat mengelabui petugas kepolisian setempat. Hihihi, pengemis di salah satu jalan dekat kampus saya, ada yang memakai jilbab, tapi di kotak uangnya ada kalung salib. Ini adalah contoh penyalah gunaan atribut agama! Lah trus emang harus gitu, menguliahi mereka karena menyalahgunakan atribut agama? yang mereka butuhkan hanya penghidupan yang layak dan PR untuk pemerintahan Irlandia di kasus ini masih sangat banyak πŸ™‚

Mabuk berdarah-darah

Huhuhuhu, seumur2 berpuluh tahun hidup di Indonesia, saya jaraaaang banget nemuin orang mabuk, awalnya saya berjalan di belakang punggungnya, dan tiba-tiba ia berbalik. Oh my… jidatnya berdarah-darah, huwwaaaaaa… saya pun lari tunggang langgang, tidak mempedulikan tatapan orang lain ke saya. Ambo takut, mamak.. Tapi ini baru pertama kalinya sih, ketemu di Dublin selama saya tinggal disini. Semoga jangan lagi yah, seremmm..

Pasangan sejenis

Seperti yang sudah saya ceritakan di paragraf sebelumnya mengenai toleransi, kaum homoseksual dan lesbian bebas menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. So far skor selama ini masih 1-1, 1x ketemu pasangan homo dan 1x ketemu pasangan lesbi yang lagi bermesraan. No big deal. Sama aja risihnya ketika ngeliat pasangan cowok cewek bermesraan.

Naah, sudah impas masing-masing 3, dan Rania udah bangun dari tidurnya, sekarang dia mulai ikutan ngetik di laptop, hihihi..

See ya, dear readers! πŸ˜‰

Facts about Rania!

Oh, these sunny days make everyone in this city happily ever after like how the Cinderella and Prince Charming story ends πŸ˜€

Rania several times went to Toddler groups and she is now infected by mild flu, hopefully she will be better as soon as possible πŸ˜‰ Anyway, this post records some facts about her, starting from her very beginning days living in my womb.

  • A day after taking pregnancy test and found it positive, I took her climb Padang plateau with my best colleagues.
  • We named her Olaf before we knew her gender, and changed it to Olive after doctor said that Olaf’s genital is female.
  • She was born on 17th of Ramadhan holy month which coinciding with Nuzulul Quran day.
IMG_20150705_074104

One-day old Rania

  • At the day she was born, I was going to change her name into Qurania, but I changed my mind.
  • She got her first Tahnik, by her grandma from Lamongan πŸ™‚
  • In BC calendar, she was born onΒ American’s independence day.
  • Soon after her umbilical cord was cut, she was laid down on my chest and urinated my stomachΒ instead of sucking my breast.
  • She is very calm and behave newborn, her demand when waking up in the midnight only breast milk and/or change the pants.
  • She rarely poop in daily, mostly once in 2 or 3 days. The longest strike duration was 7 days.
  • Rania has her own passport when she was 23rd day old and she didΒ not open her eyes for a second >.<
  • Her first formal photograph for visa was taken on 30th of July 2015, which is 3 weeks after her birthday.
Rania ok

Visa Photograph

  • The second loudest and longest cry after born was the first night she stayed in Dublin.
  • Her first word is ‘headset‘, happened when her uncle gave her a headset to be played with. What a gadget-lover baby!
  • She likes almost every food I made for her, her only first rejection is rice porridge, but she eatsΒ it now in daily meal.
IMG_20150808_183630

A never ending happiness, InsyaAllah!

This is going to be a longer list as she continuously grows and explores this world. I believe that at this moment, it is not only Rania who is growing, but also me and her daddy. To be more mature parent.

We love you, Rania!

Di sana Jurnal, di sini Jurnal..

Jauh dari Jurnal SISFO di kampus asal, eh saya jadi deket sama dunia perjurnalan di kampus yang baru πŸ˜€

Memang, kalo cintanya di dunia editorial gak bakalan jauh-jauh dari Jurnal. Beberapa bulan yang lalu ada open recruitment reviewer di Jurnal Postgraduate kampus. Iseng banget nyoba masukin CV ama list of publication. Gimana gak iseng, orang tugas individu saya aja dikasih komen “English!!! Need lots of improvements!”, bahahaha… yaa walaupun ujung2nya dapet grade I juga, tapi tetep percentage paling lemah di writing >.<

Yaaa, gimana ya, saya kan persebaya bonek *bondo nekat*, jadi PD aja masukin ituh CV. Eh gak taunya minggu lalu keterima jadi peer review, kayaknya mereka kekurangan peminat reviewer banget yak, sampek nerima dirikuw :p
Setelah lihat-lihat websitenya (lhaaa, masukin CV dulu baru lihat website jurnalnya :p), eh ini Jurnal 11-12 sama Jurnal SISFO: not indexed yet. Masih bagusan SISFO malah, teratur terbitnya dan tidak direview oleh orang dalam institusi saja. Ciyeeehhh.. narsiss…

Tapi dari proses review ini, saya jadi nambah referensi untuk suntingan selain di Indonesia dan sekitarnya. Jurnal sini, gak indexed juga tetep dipeer-review. Ini kan kalok di Indonesia malesin banget. Orang nggak indexed aja, ngapain harus direview? Nulisnya aja butuh usaha neng, masak pakek acara direview segala πŸ˜‰
Belum ntar hasil revisiannya di cek lagi.. ya kaaan.. #EditorCurhaaaatt

Sisi positifnya yang bisa diambil dari evaluation form Jurnal sini yaitu formnya close nggak open. Maksudnya?
Klo jurnal di Indonesia, setahu saya kan form reviewnya bagian akhir bener2 dikasih blank space untuk reviewer menumpahkan keluh kesahnya. Tapi disini enggak, dibatesin cukup top 3 saja. Jadi gak bisa nulis surat cinta panjang lebar di evaluation form, yang mungkin juga gak bakalan semua direvisi ama penulisnya.

Selain itu yang paling penting, gak cuma ‘nyacat’ doang, tapi reviewer diwajibkan untuk menuliskan top 3 stregth of this paper, which author should not lose in revision process. Nah kan, jadi fair.. Author jadi gak mutung klo papernya dikasih review dan penulis jadi termotivasi untuk merevisi. Ehehe, walaupun mutung nggak nya author tergantung dari masing-masing mental penulisnya ya..
FYI, gak cuma jualan doang yang ada ‘hit and run’ :p

Lain hal lagi, di Indonesia ada sekitar 4-5 decision options. Major revision, minor revision, borderline, reject. Disini cuman 2, Yes or No for publication. Biasanya kalau saya pas jadi reviewer lagi galau, ini paper enaknya dipublish ato enggak, saya pilih borderline πŸ˜€
Lantas ngerepotin editornya untuk cari another opinion πŸ˜€
Tapi kalo disini gak ada pilihannya neng! πŸ˜‰

One lesson learned: budaya review bergeser dari yang tadinya mentioning and elaborating flaws jadi finding constructive solutions.

Jayalah selalu perjurnalan Indonesia! Semoga suatu saat saya bisa jadi Editorial Board International Jurnal yang indexed!

*ikimestionoksingmbatinlebay
Wkwkwkwk.. Ya maaph..

Hello Spring!

Saatnya bunga mengembang, menyiapkan untuk berbuah di musim panas. Genap sudah 6 bulan kami berpetualang di negeri ini. Berikut updatenya πŸ˜‰

Jpeg

Cherry Tree inside Trinity College Dublin campus

Siang dan Malam
Ini kali pertamanya kami sekeluarga merasakan pergeseran jumlah jam siang dan malam πŸ™‚
Saat winter, maghrib sekitar jam 4pm dan subuh sekitar 9am. Sedangkan saat spring sekarang, maghrib jam 8pm dan subuh jam 5am. Huhuhuhu..
Kalau pas winter, senengnya yaitu bisa berlama-lama ngumpet balik selimut. Toh masih gelap, belum banyak yang beraktivitas segelap ini, walopun udah jam 8 pagi. Tapi malesnya, sholat dhuhur dan ashar pas winter jadi keburu-buru 😦
Naaah, pas summer, senengnya yaitu masih bisa ngelab sampek jam 6-7pm. Toh masih terang, masih banyak temen dan jalanan masih ramai lalu lalang kendaraan. Tapi, waktu tidur malam jadi berkurang 😦
Andaikan di Indonesia, tidak ada perbedaan jam yang signifikan dari hari ke hari, bulan ke bulan. Hapal waktu sholat di luar kepala. Namun, waktu serasa terhenti… dan kami jadi berhenti mensyukuri nikmat pergeseran siang dan malam.

Toddler Group Rania
Jadi pada awalnya, concern kami adalah isu insekuritas Rania yang cukup tinggi terhadap orang asing. Eventho bibinya sendiri 😦
Kalo mbah-mbah di bis wajar lah ya, klo Rania nangis ngejer. Pertama, karena dia gak familiar sama wajahnya. Kedua, karena mbah-mbah ini kalo ngudang langsung ndeketin wajah mereka ke Rania. Ibuknya aja kaget, apalagi bayii, hahaha…
Sehingga, kami memutuskan untuk membawa Rania ke tempat baru yang banyak orang asing, agar dia agak terbiasa. Toddler Group pilihan kami, jatuh ke Taney Parish Centre, bayar sih, jadi masih pengen coba-coba ke Toddler Group yang laen.
Pada awalnya, kukira Toddler Group ini semacam tempat bayi2 berkumpul lalu diberi pengarahan mengenai perkembangannya. Eh ternyata, cuman dateng, tumpahin soft toys, terus maen sesuka hati sampai 2 jam. First trial Rania, dia seneng sih. Cuma nangis sekali doang dia, selainnya happy all the day!
Pertama kali nyampek, kenalan ama Lucy (8mo). Lucy curious banget sama jilbab Rania kuning-oranye warna-warni kembang disana dimari. Ditariklah, ngeeeeekk..
Rania cuma mewek, tapi gak nangis. Mungkin Rania bingung, dia harus bersikap gimana, karena selama ini tidak ada yang menarik-narik jilbabnya. Hahahhahaa..
Kenalan kedua, ama Carla (18mo). Carla lagi crankkky abis, gegara pas itu hari pertamanya dia ditinggal mamanya kerja, yang nemenin mbahnya. Diketoklah itu kepala Rania pake mobil-mobilan plastik, huwaaaaaaa.. Rania nangis ngejer, tapi cuman bentar, habis nenen Rania happy lagi ^_^

Bunga datang dan pergi
Pas awal spring atau akhir winter, daffodil mulai mengembang. Cantiiik banget, karena pohon lain pada tinggal ranting saja. Dia jadi primadona. Eh pas Springnya, dia sudah akan layu, and wont last till summer. Tapi, dia digantikan sama kembang-kembang cantik lainnya yang lebih beragam jenisnyaa πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚
Ini photo di taman Stephen Green dan Square di kampus..

This slideshow requires JavaScript.

Kalo di Indonesia, bunga-bunga mekar seringnya sepanjang tahun. Mungkin hanya untuk species tertentu saja yang mekarnya nunggu musim tertentu.

Kesimpulannya apa dunk?

As what Master Shifu said in KungFu Panda 3
“If you only do what you can do, you’ll never be better than what you are”.

Disini lebih banyak ups and downs, dari segi cuaca, material dan lingkungan sekitar. Kalau orang bilang, merantaulah untuk merasakan perbedaan-perbedaan yang tidak kita temukan di tempat kita lahir dan besar. Gak harus ke luar negeri, ke luar kota cukup, naik ke gunung juga mungkin cukup. Ini semua akan menambah kemampuan kita untuk terus bersyukur dimulai dari hal yang paling kecil. Lalu semoga endingnya, kita jadi orang yang berbeda dan lebih baik dari kita sebelumnya πŸ™‚

Aamiin

What is your purpose of life?

These two weeks, I am lost.. Just because my professor asked me what my research question will be. I have my own topic which has been approved by her since the beginning of my interview session with her.

My professor is strong, like my mother. I love her directness in saying something, as I am not good at catching hidden meaning. But, her questions are really bugging me, not in a bad way, good way indeed. Even for answering those questions, I have my two weeks gone, how will I answer the angels’ questions in afterlife? What is your entire life dedicated for? I might only last for 30 years? 50 years? 70 years? Mayflies only have 1 day to live and what I am going to do with my ‘1 day’ if I were mayfly? I don’t have enough money or houses or knowledge as legacy to my future generations.

I keep asking for myself, why I should choose this one, do that, why not the other one? It is no longer because ‘it is what normal people do’, since I moved here, there is no ‘normal’ term. Everything changes.

Yesterday, I said to my professor, ‘is it too late that if I want to change my topic back to forex forecasting?’. I don’t know where I got this fortune-telling passion from :)) But, I just feel empty when doing forex forecasting. Totally empty.

Now, I carry something new, out of my comfort zones. Personalized Weather-related Infectious Disease Adviser System. I even don’t know how to spell build that, I just have a big dream that it will inspire somebody to build better than mine, so the generation of my daughter will be guided by those adviser system. Even after I died.

Saying that statement to my professor is just like saying that ‘I am going to surrender, should I go back to my previous life?’ #dramajuststarted

Fortunately, she said to me this wise statement ‘All this stuff are about process, you just being here for 6 months. I can say that you are not too late to do that. But, I bet that there are lots of scientist did time-series forecasting.’ She is right, plus I have no passion to continue the time-series forecasting.

All I have to do is hearing what universe is saying to me, open up all my senses and find a way to collect my shredded passion and of course literature!, seeing the smiling faces of Rania and beat this one! I don’t want going back to forex forecasting even though it will produce lots of money, I have to do something for a better future and create a legacy in which my descendants will say proudly ‘she is my ancestor!’.

Time to wake up and making that legacy! πŸ˜‰

Happy! *bisanukergratis*

Cerita ini sudah agak lama sebenernya, tapi gapapa lah belum sempet ketulis sejak lama πŸ˜€
Sebelum winter, saya sudah naksir sama model sarung tangan yang bisa dibuat hapean kapan aja sambil nunggu bis, tanpa harus buka sarung tangan. Ketemulah satu model, seperti di gambar, dimana tiga ato empat jari tangan (selain jempol) bisa dibuka tutup buat hapean tanpa harus buka telapak tangan. Haha, ini sarung tangan oportunis banget yak, mau enaknya sendiri. Jadi berasa mirip saya yak? :))

Mitten Rajut

Mitten Rajut

Akhirnya nemu yang serupa di Dealz (toko serba 1.5 EUR). Murah meriah, dapet yang disuka πŸ˜‰ Maunya kembaran ama ponakan juga, jadinya saya sempet ambil foto untuk 2 warna beda (ungu dan pink) seperti di bawah ini. Ternyata dia mau yang ungu, oke deh cus ambil yang ungu.

Si ungu dan pink

Si ungu dan pink

Sesampainya di rumah, si ponakan tanya, “tepin, kok sarung tangannya cuman satu?”“toeng, punya tepin ada 2 kok chi”. Sambil nyari pasangannya barangkali nyelip di tas belanjaan, eh gak ada. Memang modelnya bikin gak aware itu satu ato dua, karena ada tutupnya jadi keliatan tebel, berasa ambil sepasang.

Duh, galaulah hati ini, mau balikin ato tuker ato beli baru. Dari referensi uni, dituker aja. Tapi udah kadung dilepas merknya, mereka mana mau percaya? ada sih di struknya juga, tapi by default pastinya sepasang lah ambilnya. Trus lihat foto diatas, lohhh ternyata sejak dari tokonya emang cuman satu, gak sepasang! Jadi mulai nyesel deh kenapa gak aware dan periksa belanjaan dulu pas di kasir ya.

Mulai menyiapkan segala argumen dari rumah, case 1 sampek case 3 demi dapetin tukeran gratis. Ato mentok mentoknya, yaweslah beli lagi 1.5 EUR, hukss..

Dengan hati gundah, besoknya saya kembali ke Dealz. Sesampainya di toko, saya bongkar2 cari pasangannya si ungu, eh kagak ada.. nemunya malah si pink lagi, dan tanpa pasangan :)) jadi ceritanya satu pink satu ungu nih? Eaaaa…
Di toko ada dua orang bapak2 sekuriti lagi ngobrol asyik, saya datengin.

Saya: Misi pak, maaf ganggu ngobrolnya.
Bapak 1: Iya gapapa neng
Saya: Pak, kemarin saya beli ini mitten (nunjukin si ungu), tapi ternyata cuma satu. Pas saya balik trus cari2 pasangannya eh ketemunya si pink ini (nunjukin si pink).
Bapak 2: Gak masuk akal!
Saya: *mbatin, iya emang gak masuk akal, yang gak masuk akal bagian yang mana nih? saya pulang gak ngecek barang ato gak masuk akal karena satu ungu satu pink?*
Bapak 1: Hahaha, mitten ini lucu yah? coba deh *si bapak main2 sama mitten ungu*
Bapak 2: Trus kamu mau swap?
Saya: He eh pak, kalo diperbolehkan sih
Bapak 1: Ya jelas boleh lah, ini kan gak masuk akal, kanan ungu kiri pink. Udah, siniin mitten ungunya, kamu ambil lagi yang baru.
Saya: *melongo, ketip ketip* Bapak gak pengen liat struk saya kemaren?
Bapak 2: gak usaaah *nyorongin balik struk saya tanpa dibuka*
Saya: Ciyuuus paaak?
Bapak 1: iyaaa…
Saya: Saya jadi gak ke kasir lagi nih ya, langsung ke pintu keluar.
Bapak 1+2: Iyaaaa..
Saya: *sumringah* Makasih paaakk.. πŸ™‚

Sepanjang perjalanan pulang, saya geleng-geleng sambil ketawa. Sebegini percayanya ama pelanggan yak? Padahal saya kan bisa aja bohong ngilangin satu ungu di jalan trus bilang gitu tadi. Mereka cara ngeceknya gimana ya, mana merknya udah lepas lagi? Emang sih cuma 1.5 EUR, tapi kan tetep aja barang dagangan πŸ™‚Β Azas kepercayaan banget maaahh, percuma jadinya nyiapin case 1 sampek 3 dari rumah πŸ˜€

Happy! bisa tuker gratiiiis ^_^

How to survive in Dublin, Ireland – Step by Step

Hai kawan semua yang ada di Indonesia dan sedang cari-cari informasi soal Irlandia, atau tepatnya Dublin, ini hasil ringkasan saya selama 4 bulan tinggal di Ibukota Irlandia.Β Bukan berarti saya sudah berhasil survive disini, huhuhu.. masih perlu banyak berguru sama manusia-manusia tahan banting yang sudah lebih dulu eksis keluar dari zona nyaman.

But anyway, karena dulu saya belajarnya sama mas dan uni dari lesson learned tacit knowledge mereka, alangkah membantunya bila kini kita buat dengan explicit πŸ™‚

Berikut ini adalah urut-urutan yang harus diurus setelah sampai di Irlandia (mungkin bisa berbeda untuk yang tidak tinggal di Dublin). Urutan ini bukan berdasarkan tingkat penting tidaknya, melainkan berdasarkan urutan pengurusannya. Alias, harus punya nomor 1 dulu baru bisa ngurus nomor 2. Begitu pula seterusnya.

1. Proof of Address
Pertama dateng kesini, baru sebulan kemudian saya dapet proof of address. Kebayang kan, gimana efek dominonya ke pengurusan birokrasi berikutnya yang baru bisa diurus klo ada proof of address (bukti alamat). Intinya ini dokumen bermakna “kemana pemerintah Irlandia harus mencari saya, apabila terdapat hal-hal yang genting“.
Untuk pelajar, proof of address didapatkan dari Universitas. Sedangkan untuk businessman dapet dari kantor. Atau yang lain bisa dapet dari tagihan listrik apartemen. Isinya antara lain deklarasi bahwa si X memang benar adalah pelajar di Univ Y (bila pelajar).
Proof of address dari kampus pun ada 3 jenis (buset!), padahal awalnya saya mengira bahwa di negara maju itu gak rumit lho. Tapi emang gak ribet sih, karena alurnya sudah jelas dan tidak ada oknum2 yang membuat jadi tidak jelas πŸ˜€
Tiga jenis itu adalah
– Proof of Address basic (berlaku selama jadi mahasiswa di Univ Y)
– Proof of Address khusus untuk buka rekening di bank (bedanya cuman tanda tangannya asli, gak scan, serta ada kata2 ‘to open bank account’)
– Proof of Address GNIB/Re-entry Visa (ini sama kayak basic, cuman sudah tidak berlaku apabila lebih dari 3 hari setelah cap stempel, asooy banget!)

2. ID Card
Bagi mahasiswa, ID Card adalah hal yang wajib dibawa kemana-mana. Kalo di Indonesia, KTM kayaknya cuman dikeluarin pas mau pinjem buku ato malah pas mau lulus doang, buat disetor (hiks). Tapi klo disini bisa buat
– Dapetin Diskonan! Yippiiee! Belanja di Asia Market Drury Street dengan nunjukin KTM di kasir, bisa dapet potongan 10%. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
– Buka pintu kampus. Pintu gerbangnya sih ada banyak di setiap sisi kebuka, tapi buat masuk ke lab, perpus dan ruangan2 di dalemnya, kudu wajib ngetap ID Card. Biasanya ini sepaket ama Proof of Address dapetnya.
Oh iya! kelupaan, klo ilang ada biaya replacementnya 20 EUR! >.< pas saya nanya kenapa di charge, mereka bilangnya sih buat disetor ke GARDA (kepolisian), karena klo disalahgunakan sama yang nemu ID Card kita, langsung ke GARDA urusannya.

3. LeapCard
LeapCard adalah kartu untuk transportasi, bisa buat bis, luas, dart, dkk.
Cara bikin leapcard cukup mudah, ada 3 pilihan cara
– Tinggal dateng ke koperasi kampus, isi form, tunjukin KTM, foto, bayar 10 EUR, beres dah.
– Atau dateng ke Dublin Bus HQ di O’Connell Street, foto, bayar, beres dah.
– Atau via online juga bisa, di sini linknya https://www.leapcard.ie/en/NavigationPages/CardPurchase.aspx, tinggal upload foto, isi form, bayar 10 EUR online trus duduk manis di rumah ntar pak pos yang anter leap cardnya.
Kenapa harus bikin leap card? Tak ada alasan lain selain lebih murah πŸ˜€
Setelah menganalisis pengeluaran disini, Transportasi cukup berkontribusi dalam pengeluaran dominan ya buuk, uhuk. Jadi klo ada cara untuk dapetin yang lebih murah dan halal, kenapa enggaakk?
Nanti ada scheme nya, mau rambler atau nggak, ada disini perbandingannya http://www.dublinbus.ie/en/Fares-and-Tickets/
Ingat! setelah nerima leap card di tangan, jangan lupa register ke web nya, https://www.leapcard.ie/en/NavigationPages/CardRegistration.aspx untuk apa? Untuk deklarasi klo leapcard dengan nomor sekian itu yang punya saya loh. Jadi klo ilang, saya punya buktinya dan yang paling penting, saldo dan paketan rambler bisa dibalikin πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

4. Bank Account
Bagi mahasiswa, inih hal utama yang harus dimiliki. Tempat buat nerima kucuran duit dari penyangga dana :p
Klo di Dublin, bank yang paling pro ama mahasiswa adalah AIB. Cuman 5 hari kerja aja udah aktif bank account kita. Klo yang lain (ehem) ini bukan black marketing yah, silahkan tunggu ampe balik ke Indonesia lagi ajah :))
Beberapa bank cuma mau Proof of Address yang khusus untuk open bank account. Persyaratan lainnya adalah ID Card dan Passport.

5. Health Insurance
Health insurance ini saya gak bisa kasih referensi banyak, karena health insurance kami sepaket ama beasiswa. Temen-temen sesama mahasiswa yang ada disini biasanya pake health insurance dari AIB karena preminya lumayan murah. Setelah dapet Health Insurance Card, baru bisa ngurus yang namanya GNIB Card.

6. GNIB Card
Gampangannya buat nyebut kartu ini adalah semacam KTP untuk orang dewasa non-EEA yang tinggal lebih dari 3 bulan di Ireland. Peraturannya ada disini http://www.citizensinformation.ie/en/moving_country/moving_to_ireland/rights_of_residence_in_ireland/registration_of_non_eea_nationals_in_ireland.html
Jadi untuk buktikan bahwa kita bukan imigran gelap dan status kita sah disini. Kemana-mana kudu bawa GNIB Card karena pernah nemu ada operasi imigran di kawasan Parnell Street. Pada bederet ituh orang-orang non pribumi sini yang ketauan belum register GNIB trus diajak baris-berbaris sama GARDA πŸ˜€
Persyaratan utama adalah:
– Proof of Address khusus yang untuk GNIB
– Bank Statement buat nunjukin di tabungan kita minimal ada 3000 EUR buat hidup
– Health Insurance
– Paspor
– Bayar 300 EUR (hiks T.T)
Lainnya seperti
– Birth Certificate
– Marriage Certificate
– ID Card
dibawa ajah, buat jaga-jaga.
Khusus untuk mahasiswa, petugas GNIB nya pas bulan-bulan tertentu datengin ke kampus. Jadi kita gak perlu ngantri di Burgh Quay. Atau kalaupun kelewat tanggalnya, kita bisa ambil antrian online yang udah ada jam dan tanggal kedatangannya dari kampus πŸ™‚

——————-
Dua kartu berikut ini optional, saya bikinnya pun karena untuk mendaftarkan Rania imunisasi. Teringat bahwa kita udah pernah bikin surat perjanjian di awal untuk ngurus visa yang isinya tidak akan memberatkan pemerintah negara Irlandia selama kita disini kan? πŸ™‚

1. PPS Card
Entah mengapa, baik daftar onlen maupun dateng langsung ke unit kesehatan yang ada disini selalu ditanya PPS Number 😦 Setelah baca-baca dan tanya-tanya, PPS number ini digunakan untuk mengambil porsi layanan masyarakat yang duitnya berasal dari pajak. Helloo? saya gak bayar pajak, tapi kok boleh menikmati layanan ini?
Itulah, untuk anak under 6 years dan manula diatas 70 tahun bisa ambil PPS secara gratis beserta paket didalamnya. Nah, Imunisasi rania itu ada di dalem paketan under 6 years. Walhasil, saya harus daftar kan, otherwise bayar sekitar 300an EUR buat imunisasi dan waktu tahu saya belum punya PPS number, saya di ping pong ke unit kesehatan lain 😦
Fix, imunisasi Rania jadi telat 2 bulan. Bukan karena ngurus PPS lama, enggak kok, cuma 5 hari, tapi ngantrinya yang 3 minggu sendiri.. Hahahahaha.. disini itu serba terstruktur, mau ngantri aja harus pake onlen ya buuk, dateng langsung gak bakalan digape (diacuhkan) klo gak bawa print-printnan tiket antrian online.
PPS jadi dalam 5 hari, dikirim pak pos ke rumah πŸ™‚
Persyaratan utama adalah:
– Tiket Online versi Cetak
– Isi form di TKP
– GNIB Card bapak, ibu
– Paspor anak, bapak, ibu
– Akta lahir anak
– Akta nikah bapak, ibu
– Alasan mengapa daftar PPS -> daftarin anak imunisasi
– Proof of Address
Ini step by step nya http://www.citizensinformation.ie/en/social_welfare/irish_social_welfare_system/personal_public_service_number.html

2. GP Visit Card
Naaah, ini seru lagi setelah punya PPS number. Awalnya saya mengira bahwa sistem layanan kesehatan di Irlandia ini mewajibkan kita untuk punya GP (dokter pribadi) sebelum imunisasi. Tapi ternyata enggak, cukup bawa PPS number aja ke medical centre dan minta imunisasi bisa. Lalu kenapa saya apply GP Visit Card? Untuk berkonsultasi ke dokternya Rania, bisa sih tanpa ini kartu, cuman bayarnya 50-70 EUR πŸ˜€ klo ada ini kartu bisa gratis untuk anak dibawah 6 tahun :p
Applynya online ada disini http://www.hse.ie/eng/services/list/1/schemes/mc/gpvc/ plus list dokternya, alamatnya dan cara apply ke dokternya (paper based or online). Klo saya prefer dokter yang deket rumah, cewek dan kalo bisa ibu-ibu πŸ˜‰ Biar gak cuman knowledge doang yang dikasih, tapi juga experience πŸ™‚
Oh iya! GP juga punya hak untuk reject application, oleh karenanya klo lebih dari 4 weeks gak direspon ama GPnya, akan mental sendiri aplikasi kita. Pak pos juga ngirimin surat yang isinya adalah GP tujuan kita tidak ada respon, apply lagi di GP yang lain.
Semoga BPJS di Indonesia bakalah keren kayak gini, jadi pajak2 pun tersalurkan secara transparan pada penduduk asli, bahkan orang luar pun bisa menikmatinya πŸ™‚

Betewe klo dibaca-baca lagi, ujung-ujungnya selalu penghematan duit, hehe iya laah.. bukannya kita pelit, tapi kita lagi survive hidup disini dengan keuangan yang terbatas. Rasanya nggak adil ajah, udah keluar dari comfort zone yang anget dan murah di Indonesia buat jauh-jauh kesini, tapi gak dapet ilmu memanage pengeluaran (alesan!), hehe.. ya gitulah, semoga ilmu yang baik-baik dari sini nantinya akan kebawa terus sampai ujung usia πŸ™‚

Postingan ini dibuat berdasarkan tacit knowledge dari:
– Mas Lintang terkempot
– Unie Nanum caem
– Mbak Lina Wati
dan teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu πŸ˜‰