Archives

Pacifier

atau empeng adalah sebuah benda yang biasa digunakan untuk menenangkan bayi kecil ketika merengek atau menangis. Akhir-akhir ini empeng sudah mulai ditinggalkan ibu-ibu zaman now, karena dianggap menyalahi kodrat manusia yang dianugerahi mulut untuk berbicara dan mengungkapkan ketidaknyamanan mereka.

Tapi…

Sebenarnya kita masih sering menggunakan empeng dalam bentuk yang lain. Menggunakan suatu alat untuk membuat orang lain diam sejenak, karena ‘rengekan’nya membuat telinga kita bising. Polusi suara. Mengganggu ketentraman hidup mereka. Kadang, empeng ini bisa berupa (1) diberi kenikmatan materi berupa uang atau tiket jalan2 gratis, (2) dijauhkan dari zona nyaman sehingga orang yang bising tersebut fokus terhadap permasalahan lain yang lebih urgen untuk kelangsungan hidupnya, atau (3) bisa juga malah langsung dibungkam, hening. Tanpa jejak.

Demonstrasi buruh yang seringkali dilandasi kebutuhan materi, akan segera diam jika dipenuhi tuntutannya. Dilipatgandakan penghasilannya, untuk diberikan kehidupan yang setara seperti buruh di negeri tetangga.

Guru-guru honorer yang seringkali bersuara karena dilandasi kebutuhan untuk legalitas dan pengakuan, akan segera diam jika diberikan gelar PNS, diakui oleh negara, dijamin kebutuhannya, hingga tua. Disegani sanak saudara.

Pengguna jalan yang jalannya ditutup paksa atau ditutup tiba-tiba secara sepihak tanpa alternatif yang lebih baik dari sebelumnya, juga akan segera diam jika jalan tersebut dibuka kembali seperti sedia kala.

Tapi apakah waktu kita cukup berharga untuk dihabiskan dengan terus merengek seperti bayi kecil yang menunggu diberi ’empeng’ untuk mengurangi polusi suara di telinga para tetangga?

Ah, mungkin saya saya sendiri juga akan merengek seperti itu juga, bila saya dihadapkan dengan situasi yang sama 😉

Terkadang kita lupa
Dunia ini tak akan selamanya
Menunggu kita
Menaklukan ragu, beranikan diri

Maudy Ayunda – Kejar Mimpi

Advertisements

Kapan pulang?

Jawaban serius:

Fall tahun ini gw pulang, kalau dilulusin ama dospem.

Jawaban santai:

Entar kalau udah waktunya, gw pasti pulang.

Jawaban setengah stress nulis paper:

Lw kapan pulang (ke haribaannya)?

Jawaban sok bijak:

Rumah adalah tempat dimana hatiku berada. Hati gw ada di suami ama Rania, jadi selama gw bersama-sama mereka, gw udah berasa lagi di rumah, coy!

Jawaban lagi mens:

Lw ngapain nanya2 gw pulang? Kita berangkat, lw kagak ikut nganter. Kita kesusahan dimari, lw kagak bantu, even bantu doa kek. Trus maksud lw apaan nanya2 kapan pulang?

(hembuskan nafas panjang)

Iya, saya paham, saya pun pernah berada di posisi yang suka tanya “kapan pulang”, atau “kapan berangkat”. Pertanyaan tersebut adalah ungkapan perhatian dan mungkin ingin bertemu lagi dengan kami, saya paham.

Mungkin juga sebenernya si penanya tidak menginginkan jawaban ‘betulan’. Atau mungkin juga saat dijawab betulan, si penanya juga tidak akan ingat dan akan bertanya lagi di kemudian hari 😂

Tapi bagi saya yang tidak sedang liburan, pertanyaan tersebut tidaklah perlu ditanyakan sering-sering karena juga tidak mempercepat waktu kepulangan saya. Saya ingin pulang ke Indonesia, rindu matahari, rindu kehujanan, kebanjiran, naik motor pelan-pelan, bertemu dengan keluarga semua sambil jajan cireng cilok siomay bermicin.

Sekian and stop asking us “kapan pulang” dan sejenisnya. That’s not helping and bugging me, dear.

Saya mohon maaf bila ada yang tersinggung dg post ini. Ini cuma ungkapan isi hati saya pribadi.

Dowry

This morning, my bride-to-be sister-in-law asked me how much dowry that had been given to me on my wedding day 5 years ago. Well, in Islam, the groom has to pay some amount of dowry to the bride (family) as a sign that the bride has already been taken and protected by the groom (family) since that day. The best dowry in Islam is the least amount of money or gold with some understanding not to burden the groom (family).

How much is my dowry, then?

I forgot how much in detail, but I know that I calculated carefully by myself using a certain simple summation formula. My dowry is a summary of his birthday, my birthday, and our wedding day (in mm/dd/yyyy format). I just made it up, so someday if someone or Rania asks me, I can explain to them about this. It is just a number which represents that he was made for me, and I was made for him, and we promised to be there for each other starting from our wedding day.

Now, I want to cry T.T

Rania

Rasanya memang tidak akan habis cerita tentang anak. Apalagi pengalaman pertama jadi Ibu. Semuanya mengalir begitu saja, learning by doing. Kalau ditanya siap atau tidak, rasa2nya saya tidak akan pernah menjawab siap sampai kapanpun 😂

Anyway, life must go on, rejeki anak harus disyukuri,

Seperti biasanya, saya menemukan ‘karakter’ pada Rania yang mungkin Ibu saya juga pernah menemukannya pada saya waktu saya kecil dulu. Memang, Rania masih belum clear masalah perkembangan wicaranya, tapi anak ini menyukai keseragaman. Well, mungkin semua anak kecil begitu kali ya?

Contohnya seperti saat ada 12 spidol tertara rapi di tempatnya dengan kepala spidol mayoritas (tidak semua) menghadap keatas. Tanpa diminta, Rania akan menyeragamkan semua spidol agar semua kepalanya menghadap keatas, tanpa terkecuali. Lain kesempatan, spidolnya dia susun berderet di lantai sampai panjaaang.

Atau saat makan, dia cuma mau nasi putih dengan kuah. SAJA. Jangan sampai deh keliatan ada wortel nyempil, daun bayam nongol di piring nasinya. Pasti dia singkirkan. Bukan tak mau, dia akan memakannya terpisah dari saat makan nasinya. Nanti dia akan makan sumber proteinnya juga tidak berbarengan dg nasi.

Satu lagi, si doi suka banget olahraga ekstrim. Kalo ketemu pakdhenya, dia akan minta dilempar2 ke udara, atau dijungkir balikkan oleh pakdhenya dengan cara memegangi kakinya diatas sementara kepalanya dibawah. Dia akan sangat happy!! 😰

Rania paling takut dengan suara derap kaki. Dia akan lari terbirit2 ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Entah kenapa sejak dari bayi dia selalu histeris dan lari tunggang langgang memeluk ayah atau bundanya jika mendengar suara langkah kaki.

Mungkin semua anak kecil seperti ini kali ya.. ada imajinasi tak kasat mata yang susah dipahami oleh orang dewasa. Mungkin lambat laun akan terkurangi sendiri seiring berjalannya waktu. Atau mungkin juga tidak 😄

Random thoughts

Minggu pagi, masih dilema antara lanjut ribuan eksperimen di lab atau spending family quality time di rumah (baca: bobok cantik males gerak). Akhirnya, pilih di rumah sambil masak2 ga jelas sambil nyari2 ide buat ngeblog ga penting 😂

Masih teringat dengan jelas, awal rumah tangga, kemampuan masak saya nol besar. Bahkan saya tidak bisa membedakan bagaimana rupa ikan matang. Tiap kali ada resep, diikuti saja, ditulis 2cm lengkuas ya beneran diukur pake penggaris 2cm 😂

Lah piye, trus?

Paling sebel klo nemu resep, ‘garam gula secukupnya’. What the…. karena saya juga gak tau ‘secukupnya’ itu seberapa nona?

Makin kemari makin sering masak, sudah mulai tidak terganggu dengan resep2 model begitu 😁 Kalau skill memasak dimulai dari 0 sampai 10, sekarang boleh dibilang skill masak saya 1 atau 1/2. Sekarang nih, dari suara gorengan saja, saya sudah bisa memperkirakan berapa lama lagi ayam akan matang *jumawaaaa.. Atau spending 30 menit di dapur tapi udah jadi 3 jenis masakan yg berbeda (baca: nasi putih, telor rebus dan tempe goreng) 😆

Dari 0 lalu progress ke 1, saya ingin mengucapkan terima kasih pada:

1. Allah SWT yang sudah menempatkan kami di negeri antah berantah, dimana jarang makanan halal nan murah nan lezat. Walhasil, masakan saya yang antara-hidup-segan-mati-tak-mau ini menjadi juaranya. Suami saya juga jadi ga punya pilihan nge-warung, hahahah..

Karunia ‘terselubung’ lainnya adalah diberikan keterbatasan finansial jadi mau tidak mau harus bisa masak untuk tetap hidup. Mungkin jika Allah menganugerahi kami keleluasaan finansial, kayaknya kami akan nge-warung tiap hari di resto Masjid 😅

2. Suami saya, yang suka bilang “aku suka yang gosong2!” pas gorengan tempe terlalu hitam, atau “nge-pizza aja yuk” saat masakan saya jauh dari kata edible. Saya pun memperhatikan bahwa dia suka bikin sambal sendiri saat ayam goreng saya terlalu hambar 😂😂

Dia juga yang diam2 benerin exhaust supaya saya tidak bau asap saat berlama-lama di dapur. I truly hope that he deserves a better wife when I die someday. Ingat yah, when I die, not during I live 😬

3. Cookpad, aplikasi resep yang bisa disearch berdasarkan ingredients, tidak hanya berdasar judul. Ini sangat membantu saat ada bahan makanan di kulkas tapi ga punya ide mau masak apa. Pilihan resep pun beragam, opsi recook jadi fitur favorit untuk newbie seperti saya yang belum pede untuk nulis resep sendiri. Takut yang baca pada keracunan buuuk 😅

4. My INFJ twin, Fariziyah Dwi Safitri, yang sabar njelasin teknik ‘blansir’ itu apa, bagi merk kecap ikan yang bikin nasgor jadi istimewa, sampek jelasin tipe2 blender dan oven yang pas untuk masing2 kegunaan. She is a medical doctor who supports me doing my PhD research, and how to be a good mom and wife 😁

Yah, demikianlah acknowledgments dari progress masak memasak saya dari 0 sampai 1 ini.

Bener2 random posting yang gak penting 🤣

My Writing Journey

This month is my 25th month I have been in Ireland, taking a PhD journey in Computer Science and Statistics. This is not the end. I still have 11 months ahead to battle with my thesis. Ups and downs in the writing process have occurred during this 2 year. In this post, I want to give a summary of my writing process that I have been through,

The writing journey began in ICKM 2016 in Vienna. I submitted a two-page short paper in September 2016 to a doctoral consortium program at that conference. It went through a peer-review process and got accepted. But, since the short paper will not be published in the proceeding. I feel reluctant to attend the conference. Haha, the visa process takes very long time to Indonesian people and we were on a very tight budget at that time. So, I think that attending this conference is not worthy enough.

On 31st January 2017, I submitted my first full-paper to IEEE CBMS 2017. A feedback from my PhD candidacy in December 2016 was about the basic idea of my thesis. Generating risk predictions from something semi-structured that is manually built from an unstructured knowledge source might not a good idea. Hence, to test this feedback, I wrote a paper to answer that question. It went through a peer-review process, five anonymous reviewers were giving their comments about the paper and it got accepted in April 2017. Sadly, I can’t present the paper in Thessaloniki, Greece. I have to celebrate Ied in Indonesia during conference time. My supervisor did it. I missed my first opportunity to meet with other researchers to talk about my thesis.

Two months after CBMS submission, in March 2017, I submitted another paper that relates to another part of my thesis to DEXA 2017 in Lyon, France. The paper was about the algorithm that helps to convert from semi-structured knowledge representation to a risk prediction model. At that time, I personally feel that the conference was too big for my small contributions. But, I keep trying to write as bold as I can. On the submission day, my paper was listed as paper number #11513. Damn!! I was competing with thousands of other papers, I had nothing to lose with my paper. On 24th May, my paper listed as borderline paper, it means that the paper is neither rejected nor accepted. The committee said that they need one more day to make a decision about my paper. Turned out, my paper was rejected. I was okay and keep improving the algorithm.

After spending time from Ied celebration in Indonesia, I submitted a paper to ACM HealthInf 2018 Conference in Funchal-Madeira, Portugal. I knew this conference from the related work of my thesis. It was published at the same conference two years ago. I give myself to try rewriting DEXA paper with some major improvements in the algorithm. I submitted the paper on 29th August 2017. Five anonymous reviewers are satisfied with my paper and I will present it in January next year. I can’t wait for this opportunity 🙂

5 minutes ago, I just submitted another paper related to the specific form of the semi-structured knowledge representation of my thesis. I read the information about the conference, MIE 2018, and my heart melted for Gothenburg, Sweden. I want to go there!! Let’s write a paper!! But, I suddenly remembered about DEXA when I read the full-paper requirement: 5 pages maximum. DEXA was 6. I looked at the conference age, 24th. Four years younger than DEXA, five years younger than me, bhahaha… Writing this paper was the minimum friction between me and my supervisor. She just so cooperative with me during the writing process for this conference. Well, it can be two things: whether the paper is already acceptable for her standard, or I already get used to talking with her in high tensions before (during CBMS and DEXA writing process) 😀 But then, the lesson learned is writing a good thing is not the most important thing to do, it has to be good and concise. Three days before the submission day, I finished writing the whole sections and my supervisor gave minor corrections. I spent two days only for making it fit into 5 pages. It was a very good exercise to drain my emotions.

After this, I am going to write a journal article for the whole system that implements a case with complete evaluation on it. I am so motivated since this year might be my final year, I really hope that next year everything will go as my plan. Bismillah, in the name of God.

Anyway, this post is intended to remind me that this writing journey means a lot to my PhD. Furthermore, I need to be honest with myself regarding my thesis. Good or bad? Does it make any real contributions to the community or not? Do I feel satisfied or not?

At the end, this work might not be recognized by anyone, maybe, it won’t win any grants. But, the most important is, I have put my best faiths on it and this work represents me 🙂

 

ORI F34, KDEG Lab
School of Computer Science and Statistics
Trinity College Dublin, The University of Dublin
Ireland

 

Pada awalnya, saya tidak memahami betapa pentingnya sebuah proses. Sampai pada suatu titik, saya trace back tahapan yang telah saya lalui dan saya tidak menemukan sebuah pembelajaran.

Mengapa? karena saya fokus pada durasi dan hasil SAJA. Saya melalui proses, IYA, saya mendapatkan hasil, IYA. Namun, proses yang berulang-ulang, proses kegagalan, proses untuk bangkit dari kegagalan, tidak pernah saya lalui. I was so proud of myself because I never failed.

Sepertinya, saya terlalu membanggakan HASIL dan DURASI sehingga lupa akan proses untuk mendapatkannya yang mungkin hanya satu kali shot. Lalu kenapa harus berproses berulang kali shot, kalau satu kali shot saja hasilnya sudah acceptable?

The whole processes will get you a master. You will be able to say “it is better to be done this way..” or “by doing with this way, you will get extra …”.. you will be able to advise yourself and a novice because you have both knowledge and experience.

I got the best mark on Statistics! both on my bachelor degree and on my supplemental course in this PhD. People will expect me confident with my statistical reasoning. But, that is not happening right now. I am dealing with statistical things but I don’t know what and how to solve this problem.

From this point, I feel that I lacked experience; I lacked tough statistical problems.

Now, I have to deal with calculus, derive a statistical formula from its roots. Proving that both are working and match or at least have less deviation between both sides. Persistence is not enough. You will have to enrich yourself with knowledge or tips from the master of Statistics. This gives me pain and tears on this Bank Holiday!

Glad that yesterday, I watched a movie series with my brother: Scorpion.

Elia said to Walter when his smart building is knocked down by a worm,

Walter, people think I’m some kind of brilliant visionary. But, the reason I’m successful is because, on the heels of defeat. Failure is part of process. You don’t know where you’re vulnerable until you fail.

——-

Never ever get so proud of your knowledge, until you can’t count how many times you’ve been defeated.

Dear Conditional probability on Epidemiology domain (i.e. Relative risks, Odds Ratios, Prevalence/Incidence), you knocked me down right now..
Congratulations!