Kapan pulang?

Jawaban serius:

Fall tahun ini gw pulang, kalau dilulusin ama dospem.

Jawaban santai:

Entar kalau udah waktunya, gw pasti pulang.

Jawaban setengah stress nulis paper:

Lw kapan pulang (ke haribaannya)?

Jawaban sok bijak:

Rumah adalah tempat dimana hatiku berada. Hati gw ada di suami ama Rania, jadi selama gw bersama-sama mereka, gw udah berasa lagi di rumah, coy!

Jawaban lagi mens:

Lw ngapain nanya2 gw pulang? Kita berangkat, lw kagak ikut nganter. Kita kesusahan dimari, lw kagak bantu, even bantu doa kek. Trus maksud lw apaan nanya2 kapan pulang?

(hembuskan nafas panjang)

Iya, saya paham, saya pun pernah berada di posisi yang suka tanya “kapan pulang”, atau “kapan berangkat”. Pertanyaan tersebut adalah ungkapan perhatian dan mungkin ingin bertemu lagi dengan kami, saya paham.

Mungkin juga sebenernya si penanya tidak menginginkan jawaban ‘betulan’. Atau mungkin juga saat dijawab betulan, si penanya juga tidak akan ingat dan akan bertanya lagi di kemudian hari 😂

Tapi bagi saya yang tidak sedang liburan, pertanyaan tersebut tidaklah perlu ditanyakan sering-sering karena juga tidak mempercepat waktu kepulangan saya. Saya ingin pulang ke Indonesia, rindu matahari, rindu kehujanan, kebanjiran, naik motor pelan-pelan, bertemu dengan keluarga semua sambil jajan cireng cilok siomay bermicin.

Sekian and stop asking us “kapan pulang” dan sejenisnya. That’s not helping and bugging me, dear.

Saya mohon maaf bila ada yang tersinggung dg post ini. Ini cuma ungkapan isi hati saya pribadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s