Random thoughts

Minggu pagi, masih dilema antara lanjut ribuan eksperimen di lab atau spending family quality time di rumah (baca: bobok cantik males gerak). Akhirnya, pilih di rumah sambil masak2 ga jelas sambil nyari2 ide buat ngeblog ga penting 😂

Masih teringat dengan jelas, awal rumah tangga, kemampuan masak saya nol besar. Bahkan saya tidak bisa membedakan bagaimana rupa ikan matang. Tiap kali ada resep, diikuti saja, ditulis 2cm lengkuas ya beneran diukur pake penggaris 2cm 😂

Lah piye, trus?

Paling sebel klo nemu resep, ‘garam gula secukupnya’. What the…. karena saya juga gak tau ‘secukupnya’ itu seberapa nona?

Makin kemari makin sering masak, sudah mulai tidak terganggu dengan resep2 model begitu 😁 Kalau skill memasak dimulai dari 0 sampai 10, sekarang boleh dibilang skill masak saya 1 atau 1/2. Sekarang nih, dari suara gorengan saja, saya sudah bisa memperkirakan berapa lama lagi ayam akan matang *jumawaaaa.. Atau spending 30 menit di dapur tapi udah jadi 3 jenis masakan yg berbeda (baca: nasi putih, telor rebus dan tempe goreng) 😆

Dari 0 lalu progress ke 1, saya ingin mengucapkan terima kasih pada:

1. Allah SWT yang sudah menempatkan kami di negeri antah berantah, dimana jarang makanan halal nan murah nan lezat. Walhasil, masakan saya yang antara-hidup-segan-mati-tak-mau ini menjadi juaranya. Suami saya juga jadi ga punya pilihan nge-warung, hahahah..

Karunia ‘terselubung’ lainnya adalah diberikan keterbatasan finansial jadi mau tidak mau harus bisa masak untuk tetap hidup. Mungkin jika Allah menganugerahi kami keleluasaan finansial, kayaknya kami akan nge-warung tiap hari di resto Masjid 😅

2. Suami saya, yang suka bilang “aku suka yang gosong2!” pas gorengan tempe terlalu hitam, atau “nge-pizza aja yuk” saat masakan saya jauh dari kata edible. Saya pun memperhatikan bahwa dia suka bikin sambal sendiri saat ayam goreng saya terlalu hambar 😂😂

Dia juga yang diam2 benerin exhaust supaya saya tidak bau asap saat berlama-lama di dapur. I truly hope that he deserves a better wife when I die someday. Ingat yah, when I die, not during I live 😬

3. Cookpad, aplikasi resep yang bisa disearch berdasarkan ingredients, tidak hanya berdasar judul. Ini sangat membantu saat ada bahan makanan di kulkas tapi ga punya ide mau masak apa. Pilihan resep pun beragam, opsi recook jadi fitur favorit untuk newbie seperti saya yang belum pede untuk nulis resep sendiri. Takut yang baca pada keracunan buuuk 😅

4. My INFJ twin, Fariziyah Dwi Safitri, yang sabar njelasin teknik ‘blansir’ itu apa, bagi merk kecap ikan yang bikin nasgor jadi istimewa, sampek jelasin tipe2 blender dan oven yang pas untuk masing2 kegunaan. She is a medical doctor who supports me doing my PhD research, and how to be a good mom and wife 😁

Yah, demikianlah acknowledgments dari progress masak memasak saya dari 0 sampai 1 ini.

Bener2 random posting yang gak penting 🤣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s