Do you believe in luck?

Apakah anda percaya akan adanya nasib baik?
Saya percaya bahwa nasib baik adalah interseksi antara ilmu probabilitas, usaha keras dan doa dari niat yang tulus. Dua kali ini kami dikaruniai nasib baik, Alhamdulillah.

Nasib baik pertama ketika kami berpergian naik bus 17 jurusan Rialto untuk berbelanja mingguan. Seperti biasa ketika berangkat, ayah menggendong Rania, dan Bunda membawa tas ransel dan karung goni kosong untuk wadah belanjaan *guys, ini beneran karung goni, bukan majas litotes* πŸ˜€

Terkadang, Rania sangat anteng di bis, atau bisa jadi ia sangat aktif (red: nangis teriak2) dikala bosan. Saat itu, dia lumayan aktif sehingga kami tidak sadar bahwa kartu leap untuk transportasi bis punya ayah terjatuh di kolong kursi bis. Saat turun dari bis pun, tidak ada penumpang yang tahu dan kami pun juga tidak tahu >_<

Setelah berbelanja selama sekitar 40 menit, kami menaiki bis nomor yang sama namun arah berkebalikan untuk mengantar kami pulang ke rumah. Bis sudah terlihat di depan mata, kami mulai menyiapkan kartu bis. Disitulah kami mulai sadar bahwa kartu bis ayah sudah raib. Cek koin, ada. Yasudah, berniat untuk bayar bis menggunakan koin saja. Kami bersiap untuk mengurus klaim kartu leap sesampainya di rumah.

Saat naik ke bis, bapak sopir berambut putih yang familiar itu menunjukkan kartu leap ayah di depan ruang sopirnya sambil tersenyum lebar πŸ˜€ Whattt, ternyata bis yang kita naiki saat berangkat dan pulang adalah sama. Plus, sopirnya masih mengenali kami dari foto di kartu leap bis yang terjatuh di bis nya ketika berangkat belanja. Plus, kami tidak jadi mengurus klaim kartu leap. Plus, sekarang kami jadi selalu teringat dengan bapak sopir berambut putih yang sukanya tersenyum lebar bila melihat kami πŸ˜€

Nasib baik? Yap!

Mungkin beda cerita bila kami berbelanja terlalu cepat atau terlalu lama sehingga tidak berjodoh dengan bapak sopir tersebut.

Mungkin beda cerita bila tidak ada orang baik yang menemukan kartu leap jatuh dan memberikannya ke bapak sopir. Banyak kasus juga sih, setelah ditemukan kartunya, malah dipakai sendiri saldonya oleh si penemu.

Mungkin beda cerita bila ayah dari awal tidak memasang fotonya di kartu leap, sehingga tidak dapat dikenali milik siapa kartu tersebut. ^_^

Nasib baik kedua, kami alami dua hari ini. Ceritanya, setiap warganegara non EU diwajibkan memperpanjang izin tinggal di Irlandia setiap periode waktu tertentu. Untuk kami, setiap tahun harus melapor diri dan memperpanjang izin tinggal. Pengalaman dari tahun kemarin, satu antrian online hanya berlaku untuk satu nama, sehingga kami mengambil dua tiket antrian online di hari yang berbeda. Antrian online bertujuan untuk memilih tanggal saja, sedangkan di hari H nya nanti, ada antrian fisik yang bertujuan untuk mengantri di bilik administrasi.

Antrian online tahun ini dikelola oleh kepolisian langsung, berbeda dengan tahun kemarin yang dikelola oleh kampus, sehingga kami tidak bisa berdiskusi dengan leluasa kapan tanggal yang bisa kami ambil. Sialnya, ayah Rania sebagai dependant saya, justru dapat tiket antrian yang 2 hari lebih awal daripada saya yaitu tanggal 18. Selain itu, saya tidak dapat mengambil antrian lagi untuk tanggal yang lebih awal dari tanggal 18, bila antrian ayah yang saya mundurkan setelah tanggal 20, maka kami tidak masuk range tanggal memperbarui kartu (dalam durasi 2 minggu sebelum due date tanggal 31 okt), opsinya bisa jadi denda atau mengurus visa ulang atau entahlah >_< Sehingga yasudahlah, kami mengambil 2 tiket tersebut dan pasrah di hari H yaitu tanggal 18 dan 20.

Dua hari yang lalu, kami mulai datang ke kantor kepolisian dan benar saja dugaan kami bahwa dependant (ayah) tidak bisa renew kartu sebelum the principal (saya). Kami meminta solusi kepada pegawai imigrasi karena oleh sistem, kami diberi tanggal yang berbeda dan susunannya begitu padahal jelas2 sudah mengentrykan siapa dependent kepada siapa. Kami diminta menunggu sekitar 5 menit, pegawai tersebut berkonsultasi dengan seniornya. Akhirnya, kami diberi solusi untuk menukar antrian, sehingga saya didaftarkan dengan antrian atas nama ayah pada tanggal 18, dan kami harus kembali lagi tanggal 20 untuk mendaftarkan ayah dengan menggunakan nama saya. Pegawai tersebut sudah mengambil nomor antrian saya, sehingga hanya tersisa antrian ayah saja (tertanggal 18) untuk dipakai tanggal 20 nanti. Mana bisaa??

Pegawai tersebut cuma bilang kalau kami harus bisa menjelaskan duduk permasalahan ini kepada officer yang akan menangani registrasi kami dua hari lagi. Glek! Dengan bahasa inggris kami yang belepotan dan harus menggunakan grammar past tense dan future tense dengan perfect, otherwise officernya bisa pusing tujuh keliling dan tidak membolehkan kami registrasi ulang. Ohmy 😦 Yasudahlah..

Two days later, which is today!
Saya mengeprint ulang nomor antrian online saya yang sudah dibawa ama officer 2 hari yang lalu. Nekat!
Karena kami tahu ada 2 lapis registrasi, di pintu depan untuk ambil antrian fisik, dan di koridor utama untuk cek administrasi dan berkas. Saya cuma bermodal keyakinan kalau sistem antrian fisik dan sistem renew izin tinggal belum terintegrasi. Sehingga di tanggal 20 itu masih kecatat nama saya di antrian, walaupun saya sudah diregister tanggal 18. Gambling sih, klo udah integrated gimana? Worst casenya cuma disangka ngeluarin kertas antrian online yang salah πŸ˜€
Tinggal keluarin aja kertas antrian ayah yang tanggal 18 trus explain panjang lebar ke bapak petugas antrian fisik di depan soal masalah 2 hari yang lalu πŸ˜€

Masalah bapak petugas antrian fisik di depan, alhamdulillah mulus. Bener dugaan kami bahwa sistem antrian online dan renew izin tinggal belum terintegrasi πŸ˜‰

Babak kedua, petugas administrasi dan berkas di koridor utama. Ini orang2nya lebih kuat dan jeli sih. Mmmm… pasrah ajalah, lagian kami masih ingat betul bapak yang menukar antrian kami 2 hari yang lalu. Kalau beliau ndak paham dengan penjelasan kami, yah tinggal tunjuk bapak yang kemarin saja πŸ˜€ hahaha..

Kami dapat nomor antrian fisik 100, lucky number, masuk ke bilik nomor 4. Pas masuk ke bilik nomor 4, whaaattt… officernya adalah bapak yang sama dengan 2 hari yang lalu!! How come? disana ada 12 bilik sodara2, bagaimana bisahh??

Kami bersuka cita, dan tanya ke bapaknya “do you still remember us?” awalnya bapaknya bingung dan coba mengingat2, yaiyalah sehari bisa ngurusin 50 orang kalee.. ini 2 hari yang lalu, it means 100 people! Pada akhirnya bapaknya ingat kami dan kami gak harus explain panjang lebar apalagi sampai otot-ototan πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Alhamdulillah semua lancar dan tersenyum dengan lebar..

Nasib baik lagi?? Yap2!
Mungkin beda cerita kalau kami datangnya terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga nggak dapet antrian nomor 100.
Mungkin beda cerita kalau kinerja officer di bilik2 lain terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga antrian nomor 100 tidak jatuh di bilik nomor 4.
Mungkin beda cerita kalau bapaknya hari ini nggak duduk di kursi nomor 4.
Kalau mau dirunut, akan banyak peluang dari kemungkinan2 yang lain yang tidak terhingga banyaknya variabel bebasnya πŸ™‚

Namun saya tetap yakin bahwa ini adalah hasil doa dari orang-orang terkasih kami nun jauh disana, sehingga Allah menakdirkan nasib mujur seperti ini.

Alhamdulillah

πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s