The Second Impression

Tulisan ini saya buat demi cinta yang datang bukan dari first impression terhadap Negara Irlandia, khususnya di kota Dublin. Ini cinta berawal dari pandangan kedua, setelah 9 bulan tinggal di sini πŸ™‚Β Biar berimbang, ada sisi positif dan negatifnya, well karena cinta ini tidaklah begitu buta :))

Positif

Berlomba mendahulukan antrian

Saya cukup sering ditawari ibu-ibu, bapak-bapak, untuk mengambil antrian mereka yang jelas-jelas lebih awal daripada saya ketika di kasir grocery shops. Saya sampai heran, saya lho masih kuat berdiri dan ngantri, wajah saya juga gak jutek2 amat untuk menunggu giliran mas kasir πŸ˜€

Setelah observasi sekian kali, barulah saya tahu bahwa itu adalah ‘manner’ mereka jika melihat siapapun yang antri di belakang mereka dengan belanjaan yang relatif ‘sedikit’. Sedangkan belanjaan mereka sendiri se trolley penuh atau lumayan banyak. Kalo sama banyaknya, hahhaha, jangan harap ditawarin duluan ya buuk πŸ˜‰

Jpeg

Ruas jalan

Berusaha ‘cukup’

Jalan raya disini rata-rata tidak begitu besar. Tapi lumayan lancar, jarang macet, padahal jumlah kendaraan lumayan banyak dan besar2 juga, terutama bis. Belum pernah saya temukan jalan di Dublin selebar perempatan jalan Kertajaya-Manyar di Surabaya :)) Jalanan disini lebih mirip jalanan di Jogja. Entah mengapa mereka disini selalu merasa cukup dengan jalan raya yang ‘hanya’ selebar itu, dan harus diparuh dengan jalur sepeda dan jalur bis (tanpa pembatas bata). Plus, jalanan ini 2 arah, bukan satu arah. Kebayang kan, gak mungkin ada mobil yang bisa nyalip tanpa ngelindes garis putih penuh. How come?

Klakson pun relatif jarang dibunyikan untuk sesama kendaraan roda empat. Seringkali klakson dibunyikan untuk pesepeda yang motong lajur bis, atau ibu2 yang nyebrang jalan dorong stroller sambil texting πŸ˜€

Toleransi seimbang

Isu toleransi memang cukup gencar di kota ini. Dimulai dari bendera pelangi, sampai untuk kaum muslimin. Mengapa saya sebut berimbang? Karena perlakuan mereka sama, baik kepada LGBT maupun kepada nun ato wanita berjilbab, sama-sama baiknya. Saya dan teman saya dari Mesir pernah mendiskusikan hal ini, dan kesimpulan kita sama: orang Irish memang aslinya baik, jadi ya kepada siapa aja baik πŸ™‚

Pernah suatu ketika bertemu dengan bapak-bapak tua duduk di Stephen Green Shopping Centre, beliau sekitar ninety something usianya. Duduk sendiri. Karena saya butuh nenenin Rania, saya tak ambil pusing duduk di sebelahnya. Setelah selesai, beliau baru buka suara. Dia bercerita bahwa semalam dia bertengkar dengan cucu perempuannya yang berusia belasan tahun, dan sekarang beliau menyesalinya. Saya pun kepo, tanya masalahnya apa. Beliau cerita, bahwa anak perempuannya seorang dokter, sekolah di Australia dan sekarang bekerja di RS Irlandia, turut membawa serta cucunya kembali ke Irlandia. Semalam, cucunya keluar dengan memakai rok mini pergi ke party jam 10 malam. Bapak tua itu marah, menyuruh cucunya untuk mengganti pakaiannya dan kembali masuk ke rumah. Namanya anak muda, berontak dan berantemlah kakek dan cucunya, dan sekarang cucunya meminta ibunya untuk kembali ke Australia 😦

Bapak tua itu bercerita kepada saya, dan menepuk pundak saya sambil bilang ‘you are more Christian than we are’. Saya hanya tersenyum sambil mengamini ucapan bapak tua itu. Mengamini bukan lantas saya mengakui bahwa saya memiliki ideologi tersebut, namun karena saya paham bahwa konteks pembicaraan bapak tua tersebut bukanlah terbatas Islam, Kristen, Yahudi atau agama-agama lain. Namun, akhlak. Siapapun bisa berakhlak baik, apapun agama atau kepercayaan mereka, dan sebaliknya.

Oke, sekarang sisi negatifnya. Ada juga toh?

Negatif

Pengemis dan peminta-minta

Negara maju identik dengan bagaimana perlakuan mereka terhadap kaum yang membutuhkan, selain itu juga dari kuantitasnya. Menurut saya, yang tidak ahli dalam bidang ketatanegaraan atau bidang sosial, semakin maju negara, semakin kecil delta si kaya dan si miskin sehingga semakin sedikit pengemisnya.

Menurut saya (lagi), Irlandia salah satu negara maju di Eropa, namun pengemisnya masih banyak. Baik pengemis yang berdandan seperti pengemis, atau pengemis yang berdandan seperti traveller sehingga dapat mengelabui petugas kepolisian setempat. Hihihi, pengemis di salah satu jalan dekat kampus saya, ada yang memakai jilbab, tapi di kotak uangnya ada kalung salib. Ini adalah contoh penyalah gunaan atribut agama! Lah trus emang harus gitu, menguliahi mereka karena menyalahgunakan atribut agama? yang mereka butuhkan hanya penghidupan yang layak dan PR untuk pemerintahan Irlandia di kasus ini masih sangat banyak πŸ™‚

Mabuk berdarah-darah

Huhuhuhu, seumur2 berpuluh tahun hidup di Indonesia, saya jaraaaang banget nemuin orang mabuk, awalnya saya berjalan di belakang punggungnya, dan tiba-tiba ia berbalik. Oh my… jidatnya berdarah-darah, huwwaaaaaa… saya pun lari tunggang langgang, tidak mempedulikan tatapan orang lain ke saya. Ambo takut, mamak.. Tapi ini baru pertama kalinya sih, ketemu di Dublin selama saya tinggal disini. Semoga jangan lagi yah, seremmm..

Pasangan sejenis

Seperti yang sudah saya ceritakan di paragraf sebelumnya mengenai toleransi, kaum homoseksual dan lesbian bebas menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. So far skor selama ini masih 1-1, 1x ketemu pasangan homo dan 1x ketemu pasangan lesbi yang lagi bermesraan. No big deal. Sama aja risihnya ketika ngeliat pasangan cowok cewek bermesraan.

Naah, sudah impas masing-masing 3, dan Rania udah bangun dari tidurnya, sekarang dia mulai ikutan ngetik di laptop, hihihi..

See ya, dear readers! πŸ˜‰

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s