Nikmat mana yang kamu dustakan?

This is what I skipped from writing this blog when I was interviewed by LPDP interviewers.

Ibu interviewer: Sudah berkeluarga?
Belum sempat kujawab, bapak psikolognya nyamber jawab “Udah bu”.

Ibu interviewer: I’ve missed something, oh yes there is a ring in your finger.
I gave my best smile 🙂 dari situ aku tahu yang mana psikolognya.

Ibu interviewer: So, how many kids do you have?
Me: One, and I am still carrying her 🙂

Ibu interviewer: Whaaa, so now you are expecting a baby. Berapa bulan?
Me: 2 months 🙂

Ibu interviewer: You should care for your baby, then why you decided to go abroad to take a PhD?
Me: Pengen cari pengalaman hidup bu, walaupun bukan berarti stay di Indonesia tidak ada pengalaman yang didapat. Tapi saya pengen kasih beragam pandangan kepada calon bayi saya nanti mengenai perbedaan universal bukan perbedaan lokal.

Ibunya manggut-manggut. Sambung lagi “Lalu apa kamu tidak memikirkan kesehatan bayimu nanti, yang mungkin berusia kurang dari 3 bulan saat kamu berangkat. Lepas ASI menurut saya bukan opsimu, tapi apakah kamu sudah memikirkan kesehatan dia nanti? Apalagi dia adalah anak pertamamu, bukan hanya bayimu yang beradaptasi, tapi kamunya mbak.”

See.. this is not an interview, ini adalah sesi curhat dan pencarian solusi dari bakal masalah ke depan. Masalah siapa? bukan masalah ibu interviewer, melainkan masalah saya. Baik sekali bukan?

Me: Iya bu, saya juga belum tahu bagaimana rasanya melahirkan, menyusui dan merawat bayi pertama saya. Saya hanya berikhtiar, dimulai dari mendatangi interview ini pagi hari ini. Hasilnya saya tidak berharap banyak, saya sudah diberikan rejeki yang begitu besar yaitu calon bayi saya. Apapun dan bagaimanapun jalan saya ke depan, saya akan berusaha yang terbaik untuk kesehatan dan keselamatan keluarga saya nanti.
Gantian nih, bapak psikolog yang gak puas sama jawaban klise ala-ala anggota DPR saya ini.

Bapak psikolog: Jadi kamu akan mengorbankan keluarga kamu, demi meraih PhD?

Whattt?? dari mana bapak ini berkesimpulan begitu. Hmmm…

Me: Nggak. (stop)
Bingung gimana mau nambahin kalimat berikutnya, lha wong jelas-jelas bukan itu kesimpulannya. Haha..

Ibu interviewer: Jadi kamu mau mengorbankan PhD kamu atau at least menunda lah, sampek usia 6 tahunan gitu mbak anak kamu.
Me: Bu, kayaknya kalau kelamaan ditunda ini PhD saya keburu males sekolah lagi. *ngakak (piss)

Ibu interviewer: Iya sih, saya juga begitu (ngikik sambil liat bapak psikolog).
Bapak psikolog: Mbak, Inggris itu dingin loh mbak, apalagi kamu gak punya sanak saudara disana, kamu tiba-tiba dateng sama bayimu kesana buat nyari tempat tinggal. Kamu datengnya kan pasti barengan sama bayimu toh. Kan kamu gak mau lepas ASI.
Me: Iya pak. (stop)
Mau argumen apa, bapaknya bener kali ini :))

—————————-

Lalu siapa sangka akhirnya saya diloloskan LPDP.
Lalu siapa sangka beberapa minggu sebelum pengumuman LPDP, beasiswa IDB menyatakan untuk menerima saya jadi awardeenya.
Lalu siapa sangka akhirnya saya withdraw LPDP yang sudah berkali-kali saya jatuh bangun mengejar cintanya demi mengambil IDB hanya karena secarik tulisan kecil yang ada di handbooknya.
Lalu siapa sangka akhirnya saya withdraw Cardiff University yang sudah susah-susah saya dapetkan unconditional LoAnya demi mengikuti interview lagi di Trinity College Dublin yang saya belum tahu akan diterima atau tidak.

Saat itu status saya kembali ke 0. Ada beasiswa, tidak ada LoA. Plus, bila saya gagal dapat unconditional LoA hingga bulan Juli, beasiswa IDB hangus. Whaattt?
Lho kok? Kemana dong 5 LoA yang saya dapetin kemarin2? Iya, IDB cuma mau top 200 univ in the world THES version.
Cardiff gak masuk, ke 5 LoA yang saya dapetin gak ada yang masuk. Lhadhalaaaah…

Satu-satunya alasan saya ke Trinity adalah saya memikirkan saran dari Bapak psikolog tadi. Saya dan bayi saya ujug-ujug dateng ke sebuah negara yang iklimnya subtropis. Begitu nekat. Lalu kenapa Trinity? Ada keluarga kakak saya disana 😀
Ibu saya juga lebih ridho kalau saya Irlandia saja daripada ke Inggris. Sementara, satu-satunya univ di Irlandia yang masuk top 200 cuma Trinity. Oleh karenanya, apabila Trinity menolak saya, saya tidak tahu harus kemana untuk PhD. Tidak ada pilihan lain di usia kehamilan saya di bulan ke 8 dan ditemani SPD.

Setting up interview sambil duduk dikasur dan menahan beban lebih dari 1kg di perut selama 1 jam. Rupa-rupanya, doa ibu saya begitu manjur. Ibu professor yang sangat baik hati mau menerima saya dan paham akan situasi kehamilan saya. Beliau pun dengan baiknya memberikan tips disana sini agar saya dapat cepat pulih dan bersekolah PhD dengan bayi pertama saya.

Siapa sangka?

Setelah di bulan ke 8 saya mendapatkan LoA dan saya claim ke IDB, saya tenang dan fokus ke persalinan. SPD yang sudah menemani saya ini membayangi bahwa kemungkinan melahirkan dengan operasi lebih besar. Berdasarkan artikel sekitar 7:3, 7 dengan operasi 3 dengan normal.

Haiiisshh…. saya tidak ambil pusing, mau normal atau operasi yang penting Rania lahir dengan selamat dan saya tetap sehat. Akhirnya, saya diberi kemudahan Allah untuk melahirkan normal dan Rania terlahir pas BB nya untuk tidak dikatakan prematur. Fhewh..

Next challenge, please?

Waiting for visa.. Minggu depan perkuliahan PhD sudah dimulai, sementara itu processing time visa saya masih berada di week 5. Terdapat delay dari yang seharusnya week 4-6 visa sudah keluar decisionnya, menjadi week 6-8. Hal ini berarti masih 3 minggu lagi, dan pertemuan kuliah saya akan terbuang di awal. Bagaimana?

Entahlah, saya sudah sangat bersyukur diberi begitu banyak kemudahan dan keselamatan. Saya hanya berfikir bahwa Allah memberikan ekstra waktu untuk menaikkan BB Rania jadi 5kg dan usia minimal 3 bulan untuk diajak berpergian diatas pesawat selama lebih dari 20 jam. Allah begitu baik bukan?

Kemungkinan PhD mundur? masih ada.
Kemungkinan batal PhD? masih ada.
Kemungkinan Rania tiba-tiba sakit sebelum atau selama perjalanan? masih ada.

Hidup ini terlalu singkat untuk dicemaskan. Stay smiling with Rania is the best option right now. Jalan takdir mau berkata apa, saya tinggal ikuti dan do the best saja. Saya cuma harus banyak-banyak bersyukur sambil menyusui Rania.

Btw, ada cerita lucu. Pas hamil bulan ke 5, saya sempet repost artikel orang yang memberikan cuti hamil+bersalin untuk karyawatinya selama 6 bulan. Saya sangat mengidam-ngidamkan hal tersebut. Berangan-angan bahwa saya akan menikmati drama seri korea di kamar sambil minum milo dingin favorit saya pas hamil besar-besarnya. Maklum, saya sudah sering sedih kalau harus naik turun tangga di kampus 😦 *manjaaa…

Guess what?

Di bulan ke 7, saya total tidak bisa beraktivitas karena SPD. Jalan ke kamar mandi pun tak bisa, bangun dari tempat tidur juga tak bisa. Lalu jurusan dengan baik hatinya memberikan saya cuti 6 bulan! Tak tanggung-tanggung 😀
Padahal saya sudah was-was saja akan dipecat karena status saya pun juga belum pns. Alhamdulillaaahh… (thanks to mbak Ninda dan Bu Mahendrawathi).

Lucu kaan, akhirnya kesampaian cuti 6 bulan (3 sebelum dan 3 sesudah) dan saya manfaatkan beneran untuk nonton drama seri korea sambil minum milo dingin. Yaaahh.. walaupun ditemani SPD, tapi klo nggak SPD saya nggak mungkin dapet cuti 6 bulan 😀

Nikmat mana yang kamu dustakan, Vin? 🙂

One thought on “Nikmat mana yang kamu dustakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s