The day…

2 Juli 2015

Pagi ini aku terbangun dan mendapati ada bercak darah di CD ku saat buang air kecil. Masih tidak yakin apakah itu flek darah atau bukan, sudah 9 bulan lamanya aku tidak haid, jadii.. agak lupa sama warna dan bentuknya..

Sambil menelepon bapak ibu di Mojokerto, aku dengan santainya bilang, “buk, ada flek darah”. Tapi respon dari sana tidak sesantai yang kukira. Bapak ibu heboh nelponin bu bidan yang untungnya juga saudara dekat kami. Kalau dari yang kubaca-baca, flek darah berarti sudah mulai pembukaan jalan lahir. Tandanya, Rania akan segera lahir dalam hitungan hari bahkan jam.

Ku sms bu dokter Spog ku, “Bu dokter, saya ada flek darah pagi ini, perlu ke RS tidak ya?”. Beberapa saat kemudian, baik bu bidan maupun bu dokter menyarankan untuk stay calm di rumah saja, karena masih lama bila belum terasa mulas. Tidak lupa bu dokter menyarankan untuk menghitung durasi dan interval kontraksi. Karena belum ada kontraksi apapun meski ada flek darah, maka saya masih santai di rumah sendirian.

3 Juli 2015

Kudapati bercak darah yang sama, sudah ke 4xnya plus lendir. Siaga 1. Ayah sudah kuberitahu dan kami bersiap pergi ke RS. Bapak ibu mojokerto juga sudah otw ke Surabaya. Padahal menurut cerita teman2ku, masih bisa lahir 3-6 hari lagi. Namun entah mengapa, kami ingin segera ke RS untuk memeriksakan sudah pembukaan berapa sekarang.

Sesampainya di RS, bu bidan melakukan pemeriksaan dalam dan hasilnya adalah pembukaan 2 longgar. Belum ada mulas. Berbekal pesan dari bu dokter dimana yang menjadi patokan adalah kontraksi a.k.a mules, maka saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan dulu. Sempat ke Bank BNI juga, untuk extend ATM yang masa berlakunya habis pass Juli 2015. Sesampainya di CS, mbak CSnya nanya, “sudah berapa bulan?”. “9 bulan mbak, ini lagi pembukaan 2” nyengir kuda. Mbak CS nya melongo, “masih sempat ya mbak?”, “iya, biar tenang lahiran karena ATM nya masa berlakunya habis”.

Lalu kami berempat pulang ke rumah. Makan-makan, bersenda gurau, seperti biasa.

4 Juli 2015 01.30

Kebelet pup. Eh nggak, bukan pup. Rania tendang-tendang. Eh bukan. Apa ya ini kok mules?
Bangunin ayah. Loh kok pipisnya gak bisa ditahan. Netes terus sampai ke kasur, bening. Oh tidaks.

Akhirnya, kalimat itu meluncur juga “Ayah, ketubanku netes, kita ke RS ato bidan deket rumah?”

Kami segera menelpon taksi, yang tak kunjung tiba, padahal ketubanku terus menetes sepanjang menunggu.
Tidak sabaran, ayah mengetuk pintu tetangga, untuk meminta tolong diantarkan ke RS.

Alhamdulillah, perjalanan lancar, karena memang masih dini hari, belum waktu sahur juga…

Sampai RS, dilakukan pemeriksaan dalam, pembukaan 3 longgar.

03.00

Mulas itu nyata. Sudah nggak ragu lagi yang mana namanya kontraksi. Mulasnya mirip bgt ama mulas pup. cuman letaknya di depan, nggak di belakang.

Intensitas mulas semakin sering, konsentrasi pernafasan buyar.

05.00

Aku meminta ibu untuk menggenggam tanganku selama kontraksi. Jeda antar kontraksi kupakai untuk tidur. Namun, kontraksi semakin menghebat. Aku cuman bisa bilang ke bapak ibu lewat kontak mata “maafin vivin ya pak bu…”

Aku muntah…

Kata perawatnya, karena aku menahan sakitnya kontraksi di tenggorokan. Ia menuntunku untuk melanjutkan teknik pernafasan. Sambil kusematkan doa pada setiap hembusannya, agar malaikat tidak menjemputku hari ini.

Meregang antara hidup dan mati itu benar.
Kasih ibu sepanjang masa itu benar.
Bahwa sakitnya seperti berpuluh2 tulang diremukkan bersama-sama, itu benar.

07.00

Pembukaan sudah hampir lengkap. Aku merasakan ada kepala bayi yang menyundul2 ingin membuka cepat keluar..
Tapi tetap tidak boleh mengejan sebelum ibu dokter datang..

Bapak ibu sudah tidak boleh disamping lagi, sekarang saya ditemani 2 orang perawat yang asyik mengobrol di tengah penderitaanku.

Aku berulang kali bilang, “mbaak, saya ingin pup”

Dan berulang kali mbaknya bilang “itu cuman perasaan ibu saja”

Akhirnya aku pup beneran 2x, sambil dalam batin “tuh kan, udah kubilang yaa tadi” 😀

07.45

Bu dokter Sri Ratna Dwinigsih dataaaaaang!

Hatiku senang, ibunya sekilas ingin meyakinkan yang mana pasiennya kali ini.
Ibunya liat mataku bentar lalu bilang “Yuk, diberakin”.

Itu kalimat terindah yang kudengar hari itu.

Kubarengkan mengejanku dengan dorongan kontraksi dari dalam. 3x push.
Bu dokter sudah meraih kepala Rania dan subhanallah, tangisannya kuaaattt, kenceeeeenng dan kulihat dia.

Bu bidan meletakkannya di dadaku dan di detik yang sama, Rania berhenti menangis dan……. pipis..

Ayah dan kakek datang untuk mengadzani dan iqomat. Hari ini terasa sangat melelahkan namun begitu mengubah hidup.

Hari ini, adalah hari dimana aku terlahir kembali sebagai seorang ibu.

Kami beri nama ia, Rania Annas Ramadhani. Rania tentu saja terinspirasi dari Queen Rania of Jordania yang baik hati, cerdas, sholihah dan cantik lahir dan batin. Annas dari nama ayah, yang berarti manusia, dengan harapan ia tidak melupakan kodratnya sebagai manusia biasa. Ramadhani karena ia lahir di bulan suci Ramadhan pas Nuzulul Qur’an.

Welcome to the world!

Rania Annas Ramadhani

Rania Annas Ramadhani

4 thoughts on “The day…

  1. Alhamdulillah.. selamat vivin.. semoga km dan rania sehat selalu..
    semoga kehadirannya semakin menambah keberkahan di keluargamu..
    *ditunggu post ny ttg asyiknya main2 dan merawat ponakanku.. hehe

  2. Ya Allaah, aku baru baca. Ikutan tegang, tapi ngakak juga, qiqiqiqi. Apalagi pas baca yang ini:

    “Bu bidan meletakkannya di dadaku dan di detik yang sama, Rania berhenti menangis dan……. pipis..”

    Semoga jadi anak shalihah yaaa ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s