Grading..

Ditengah rutinitas mengoreksi (dimana bahasa inggrisnya adalah grading) dan kalau diterjemahkan secara harfiah adalah memberi nilai. Hmmm, feels like a god yang punya kapabilitas menilai hasil pekerjaan mahasiswa.. I’m not a god bytheway..

Grading adalah salah satu pekerjaan dosen (sekalipun bisa di outsourcekan ke asisten) yang sangat menjemukan, bagaimana tidak? Satu kelas isinya 60 mahasiswa mengerjakan sesuatu yang sama dan saya harus memberikan nilai perorangan dengan membaca kalimat demi kalimat yang mereka buat.

Tapii…

Saya belajar banyak dari proses grading, bagaimana bisa?

  • Tidak semua mahasiswa bisa dinilai dari assessment yang berbentuk dokumen dengan mengerjakan soal yang sama. Kita semua tahu, setiap individu manusia diciptakan berbeda dan unik. Tidak semua manusia bisa dinilai diatas kertas, kebanyakan mahasiswa sekarang lebih suka menari perform, menunjukkan kebolehannya, kemahirannya dalam melakukan sesuatu dengan bentuk verbal bila dibandingkan dengan writing on paper..

Tapi tetap saja, assessment yang berbentuk dokumen tetap dijadikan acuan dalam menilai mahasiswa, kenapa? Karena menurut saya itu yang paling objektif, jelas benar salahnya, jelas ketauan mencontek, jelas ketauan kemampuan menulis mahasiswa, dan bisa di compare anytime 😉

  • Terkadang mahasiswa lebih mementingkan, ‘gw nyontek sapa yah biar nilai gw bisa bagus’ ketimbang ‘gw mau ngerjain sendiri ah, bagus nggaknya, bener salahnya urusan belakangan’. Dua tipe diatas nggak ada yang benar menurut saya, karena menurut saya mengerjakan sendiri itu kemungkinan salahnya cukup besar, kecuali mahasiswa tersebut setingkat dewa. That’s why human exists… to discuss, to save each other.. Bekerjalah sendiri, lalu compare dengan pekerjaan orang lain, apabila ada yang berbeda (dalam case mata kuliah eksak) telusuri siapa yang salah dan membuat hasilnya bisa berbeda, dari situ akan menemukan siapa yang teliti, dan siapa yang berbuat kesalahan sehingga tidak akan mengulagi kesalahannya lagi. Reward and Punishment.

Bagaimana untuk case mata kuliah non eksak, sebutlah PSI yang kemarin juga saya ampu, dimana soal-soal essay lebih mengarah kepada ‘ceritakan tentang’, ‘berilah contoh kehidupan sehari-hari’ and so on… Bagaimana saya memberikan grade? Tentu ada faktor subjektif yang involve disana, contoh:

.: kegondrongan paragraf, akan membuat saya apriori dan malas untuk membaca kalimat demi kalimat 😀 *curhat*

.: ketidak rapian tulisan juga akan membuat saya membutuhkan waktu yang lama untuk membaca :p

.: satu saja kalimat yang sama dengan mahasiswa yang lain akan membuat saya men-deny semua kalimat-kalimat berikutnya *ini bawaan lahir*, lha wong memang jelas-jelas pendapat, ceritakan kembali kok bisa sama dengan temannya itu lhooo… kecuali kalau punya kekuatan superpower untuk telepati…

.: dimana kalimat kesimpulannya? Sebenarnya saya membaca kalimat demi kalimat itu untuk menemukan dimana kalimat kesimpulannya yang akan menunjukkan bahwa mahasiswa paham untuk menceritakan ulang dengan kalimat yang lugas dan logis. Bukan dengan kalimat pembuka, pembuka dan pembuka 😀

  • Bagaimana dengan assessment yang berupa performance, saya akui memang hanya selected item saja yang memiliki kemampuan presentasi dengan baik, dimana membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi, latihan bertatap muka dengan audience, kemampuan untuk membaca gesture audience, dan tentu saja persiapan materi dan mental yang bagus sebelum presentasi.

Biasanya saya akan melihat dari bobot terlebih dahulu, apakah yang dipresentasikan berbobot? *bukan presenternya lho ya yang berbobot* 😀 Lalu yang kedua, apakah dia menyampaikan dengan humble dan bersifat menceritakan, bukan menggurui teman-temannya. Yang terakhir, apakah dia bisa menarik perhatian teman-temannya dengan memberikan informasi yang bermanfaat? Menarik perhatian adalah salah satu yang paling sulit dilakukan, karena biasanya presenter tidak akan dilirik apabila tidak menarik dalam hal content, gesture, intonasi bicara dan kekerasan suara, somehow kita tidak perlu berteriak untuk menarik perhatian.

  • Terkadang, pada mata kuliah tertentu saya sisipkan kompetensi kuliah untuk pemanfaatan teknologi, hal ini untuk memfasilitasi mereka-mereka yang kurang bisa menulis, kurang percaya diri untuk presentasi namun baik pada pemanfaatan teknologi *sebut saja geek* :p

Dan biasanya cluster ini yang menjadi tempat rujukan teman-temannya, apabila dia memiliki rasa yang tinggi untuk sharing. Contoh assessment ini adalah: membuat video, membuat program animasi, membuat program dengan algoritma yang challenging, menyelesaikan real problem dll.

  • Tipe grading yang terakhir adalah kebersamaan dan solidaritas. Apa sih apa sih? Bullshit banget kayaknya :p he em, bullshit memang semenjak saya ingin mengembalikan suasana kampus menjadi nyaman buat hidup, bukan hanya buat kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang) *thanks to Rio for this new vocab* :worship:

Kebanyakan bagi mereka yang berjiwa social bisa masuk pada assessment ini, namun biasanya yang berjiwa individualis, tidak akan bisa melewati assessment ini. Mungkin dari para pembaca merasa bahwa ini tidak cocok diterapkan di dunia kampus yang sekarang sedang ngetrend research campus not teaching campus apalagi socio campus. Tapi mimpi saya untuk menjadikan kampus ini menjadi research socio campus masih akan tetap saya jaga untuk diwujudkan, bukan untuk dikenang 🙂

  • Last but not least, grade bukanlah segalanya, grade datangnya hanya dari sesame manusia yang kebetulan didaulat untuk memberikan sebuah nilai akan suatu kemampuan. Jangan terpacu oleh grade, jangan terpatok oleh grade dan jangan bertujuan untuk mendapatkan grade. Karena grade hanya sebatas grade 🙂 you can prove it or do better than it..

Happy new year!!! *Postingan pertama setelah tahun 2012 :p*

Taio Cruz – Dynamite

Advertisements

10 thoughts on “Grading..

  1. question : how much time do you spent for this writing since the idea came until finishing, cause i’ve been through difficulty in writing b4, it’s so much encouraging reading ur writing. very good. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s