Weekend ini…

Weekend ini, saya akhirnya pulang juga, terakhir pulang saat lebaran kemarin… Ibu dan bapak masih sehat, Alhamdulillah… Mbah juga demikian, saya hanya tinggal memiliki satu mbah yang saya miliki sejak lahir 🙂 dan percaya atau tidak, wajah saya mirip dengan mbah, mulai dari jidat, dagu, tulang pipi dan hidung, semua inherit dari mbah Ö.ö

Mbah seperti biasanya, memberikan banyak wejangan betapa saya harus banyak bersyukur, tidak boleh takabbur, harus mawas diri, rendah hati, jangan suka bolos kerja :p *nah ini mbah yang agak susah*, hehehe… dan dateng kerjanya jangan mau kalah pagi sama yang senior  *waaah apalagi ini mbah*, dan pulang kerjanya juga jangan mau kalah terakhir sama yang senior..
Mbah di usianya yang ke 90an, masih kuat melakukan banyak hal, dan masih mengingat dengan jelas, tidak ada flaws, masih saja memikirkan saya cucu satu-satunya yang belum menikah, dan ingin sekali melihat saya menikah, lalu setelah itu beliau baru ikhlas dipanggil yang maha kuasa..
Saya tidak akan menangis karena terharu  di depan mbah *tapi di depan leptop iya*, saya hanya meminta doa mbah agar diberikan jodoh yang terbaik di setiap doa mbah..

*Yiruma – River flows in you*

Setelah bertemu dengan mbah yang rumahnya cuman sejengkal sama rumah saya 😀 saya bercengkerama dengan bapak di ruang makan, saya membawakan bapak buku Ippho Sentosa 7 Keajaiban Rejeki, sekalipun saya tahu bahwa bapak sudah tidak asing dengan isinya, namun bapak tetap menghargai buku bawaan saya dengan membuka-buka bukunya 🙂 That’s my dad!

Lalu saya mengeluarkan buku kedua, yang belum selesai saya baca, Tuesday with Morrie, bapak bertanya buku apa itu? Islami kah? *bukan pertanyaan rasis* tapi hanya ingin mengetahui genre bukunya saja… Saya menceritakan sebagian besar isi bukunya bercerita tentang professor yang bernama Morrie, ia di vonis akan segera meninggal *seperti 1 littre of tears* tapi karena ini yang mau meninggal adalah professor sosiologi, sehingga makna kehidupannya yang diajarkan begitu banyak…
Membaca buku setipis itu, mungkin bila buku lain, sudah selesai dalam satu hari, tapi buku Tuesday with Morrie saya teguk perlahan, seakan saya tidak ingin melewatkan setiap kalimatnya dan meresapi setiap kalimatnya setiap sebelum tidur… Sekalipun buku tersebut menceritakan tentang umat yahudi – agnostic yang menggabungkan ajaran agama Yahudi, Kristen dan Buddhism, tapi saya tetap menghargai dan memaknainya, setiap kata, kalimat, lembar demi lembar…

Andai Morrie mengenal Islam sebelum akhir hayatnya, pasti ia akan masuk Islam 🙂 no wonder lah kalau Einstein banyak yang bilang di akhir hayatnya ia memeluk Islam, dan malulah kita semua umat Islam yang sejak lahir sudah memeluk Islam, tapi tingkah laku kita tidak Islami 😥 termasuk saya…
Orang lain non muslim saja rela merangkak, rela mengembara, rela mencari jati diri jatuh bangun, untuk mengenal ketauhidan, mengenal mati, mengenal kebutuhan spiritual, mengenal ‘hal’ yang lebih Islami, masa kita yang dari lahir sudah disodori Al-Qur’an males-malesan baca 😥 termasuk saya…

*Damien Rice – Cold Water*

Saya akhirnya terlibat diskusi panjang dengan bapak, dan seperti biasanya Ibu yang cenderung close mind dan apriori sudah out duluan dari diskusi kami mengenai si Morrie :p Bapak tetap menemani saya diskusi dan mengimbangi saya dengan cerita-cerita pada masa mudanya, masa pencarian jati diri, dimana beliau pernah mengenal sosok non muslim yang sikapnya jauh lebih islami dari kami yang muslim.. sopan, santun, bersahaja, selalu mendoakan keselamatan, menjalin silaturrahmi, berzakat, puasa dan banyak hal lainnya, dan saya mempunyai kesamaan pendapat dengan bapak, yaitu bahwa Allah tidak tidur, Allah tidak pilih kasih, dan pasti akan menempatkan teman bapak tadi di tempat yang baik di akhirat nanti sekalipun ia bukan muslim 🙂 *entahlah, mungkin saya dan bapak akan membuktikan hipotesa kami, di akhirat nanti* hihi…

Bapak juga berdiskusi mengenai syekh siti jenar sampai aliran salafi *maaf kalau salah mengeja*, sometimes pembicaraan kami terdepak pada limit-limit ekstrim yang orang lain malas membicarakannya, tapi kami sangat antusias 🙂 tidak ada yang salah dalam berpendapat, semua itu proses learning dan unlearning…

Weekend ini terasa begitu berguna, dan melahirkan satu visi baru, bahwa saya akan mencari pendamping hidup yang seperti bapak 🙂 agar anak-anak kami nanti tumbuh dengan demokratis, open mind, menghargai proses, pekerja keras, loyal, idealis, peka, perfeksionis, repetisi dan bolehlah agak sedikit narsis :p

Sekalipun saya dan bapak begitu mudah sekali bertengkar dalam diam, itu semua karena kesamaan kami yang sama-sama keras kepala dan idealis, tapi toh setelah itu semuanya berakhir dengan canda tawa kembali. Dan kami seringkali seide sekalipun tidak mengungkapkan ide masing-masing, dan saya tahu dan percaya dengan pasti bapak merasakan apa yang saya rasakan saat ini, mungkin itu sebabnya bapak percaya saya dan akan selalu percaya pada saya…

*Patty Smyth & Don Henley – Sometimes Love Just Ain’t Enough* > sumpaah ini lagu ada di CD babe gw dong T.T

emm, betewe ini jam dinding yang saya maksud di post ini

jam dinding ituu

jam dinding ituu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s