baru beberapa menit aku meninggalkan toko suvenir tersebut, aku kembali.. dan menemui bapak tua pemilik toko suvenir itu..
‘pak, saya sudah tahu bagaimana memegang bola crystal itu’ aku menunjuk bola crystal diujung sana..
bapak itu mengernyitkan dahi ‘oh ya? sudah yakin?’
‘iya, yakin’
lalu aku mengikuti bapak pemilik di belakangnya, ia berjalan menuju bola crystal ‘tapi ini tidak dijual dik’
woooottt ‘tidak dijual gmn maksudnya pak?’
bapak tua tersebut tersenyum ‘iya, ini cuman buat pajangan aja nggak dijual’
aku masih menganga heran ‘trus klo gak dijual kenapa ditaruh di etalasee??’ tanyaku agak sedikit sewot
‘sebagai pajangan’ jawabnya singkat
‘kalau tidak dijual kenapa bapak menyandingkannya dulu dengan bola karet yang dijual?’ tanyaku masih menyerang
‘bola crystal ini akan tetap disini, dan saya tidak akan menjualnya’
wooot, putar otak ‘trus kenapa itu ada label harganya coba?’ konsisten dong pak, dalam batin
‘setiap orang yang datang ke toko ini, pasti dan akan selalu tertarik dengan bola crystal ini, dan pasti akan selalu ingin membelinya, dan hanya berujung sebagai pajangan, hiasan, dan akan selamanya begitu’ bapak itu menarik nafas
‘carilah bola yang benar-benar kau butuhkan nak, yang akan membantumu menempuh hidupmu, yang akan selalu menyenangkan hatimu dan akan membawamu bermain untuk selamanya bukan temporary, bukan diletakkan lalu sebagai hiasan pemanis ruangan’
oke, ‘please deh pak, saya yang benar-benar tahu apa yang saya butuhkan dalam hidup ini’
bapak itu menggeleng lemah ‘tidak nak, bukan kamu yang paling tahu apa yang kamu butuhkan dalam hidup ini’
aku mulai terganggu dengan bapak ini, dan akhirnya aku berkata ‘aku tidak akan membeli apapun dari toko ini lagi pak’
‘oke, kalau itu keinginanmu, bapak tidak melarang, dan toko ini akan tetap terbuka untukmu, datanglah mampir bila tidak sengaja lewat depan sini’

aku keluar dan membanting pintu toko tersebut dari luar hingga menggetarkan barang-barang di etalasenya.. dan tidak sengaja menjatuhkan bola karet yang full colour dari rak nya.. ia memantul-mantul ke lantai, dan berhenti di depan pintu, menungguku untuk membelinya..
dan aku belum tahu, kapan aku akan lewat depan toko itu lagi, dan say hello dengan penjual itu, dan barang-barang yang terjual atau pura-pura terjual di dalamnya.. aku pun berdoa semoga bola karet itu menemukan pemilik yang cocok untuknya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s