Being a lecturer…

Seharusnya, pekerjaan seorang lecturer adalah giving a lecture saja… Kalau dilihat secara sekilas, sangatlah mudah, just giving a lecture… tapi sebenarnya sangatlah banyak yang harus dipersiapkan.. Mulai materi-materi perkuliahan terkini biar nggak jadul, menyiapkan paper-paper yang terkait dimana sebaiknya within 5 years, belum lagi dibaca papernya. Lalu mencari topic penelitian yang terkait dengan lecture yang dibawakan. Lalu menyiapkan assignment apa yang  cocok dan kompeten untuk mendukung perkuliahan dan bagaimana cara untuk menilainya. Setelah itu mengoreksi assignmentnya. Memberikan grade yang fair enough dimana aspek penilaiannya ada yang  terdiri dari explicit dan implicit. Dan apakah itu CUMA? I don’t think so…

Menjadi lecturer adalah menjadi koki. Memasak nasi yang cukup dan appropriate, sehingga college-student akan cukup kenyang, tapi juga cukup lapar sehingga membuat mereka mencari nasi sendiri di kemudian hari. Mengapa nasi? Karena nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia *hassle* lho serius… tanpa lauk, Cuma nasi, karena lauknya akan mereka kumpulkan sendiri melalui assignment2 yang diberikan…

Sehingga bila assignmentnya tidak cukup bagus, maka collede-student hanya melahap nasi yang hambar dan tidak menutup kemungkinan, ia akan merasa bosan dengan nasi yang kita buatkan setiap pertemuan kuliah. Sebuah assignment tidak harus dilakukan, itu sunnah *in my religion that’s means that you don’t have to do it* karena mereka pun akan tetap hidup tanpa lauk, sekalipun hambar.

Menjadi lecturer adalah menjadi diri sendiri, harus menceritakan cerita yang benar dan nyata. Tak boleh menceritakan hal yang negatif atau sekiranya akan membuat persepsi yang negatif pada mahasiswa. Menjadi lecturer adalah menjadi debater yang sekali debate harus membuat mahasiswa mengerti. Mengapa harus sekali? Karena yang kedua, ketiga atau keempat, menurut saya sudah tidak impress dan tidak akan diingat lagi. Menjadi lecturer haruslah modis, tidak boleh lusuh, boleh nyentrik, boleh up to date. Karena akan menjadi pusat perhatian dari seluruh mahasiswa di kelas.

Menjadi lecturer adalah menjadi hakim, dapat menyelesaikan permasalahan antar mahasiswa secara fair. Tidak boleh pihak sebelah, win-win solution. Tidak boleh hanya memberikan punishment, sehingga bila dicubit, yang terasa hanya sakitnya saja, tapi ia tidak dapat memaknai mengapa ia dicubit, dan bagaimana agar ia tidak dicubit lagi dan mengapa punishmentnya adalah cubitan. Secara yang dididik adalah mahasiswa, dimana lekat kata ‘maha’ sebelum kata siswa, sehingga dapat diambil secara general bahwa ia dapat berfikir dan bertindak lebih dari sekedar siswa.

Menjadi koki, diri sendiri, debater, model atau hakim adalah visi, dan sekarang adalah masa ‘pursuit’ dimana masa pengejaran atan pencarian apa saja yang harus dibutuhkan untuk membuat misi dan akhirnya mencapai visi tersebut 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Being a lecturer…

  1. that’s also mean we are the full time entertainer which we have to be professional and giving our best to teach..love this post..(^^)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s