Arti sebuah kepercayaan…

Jaman SD, adalah jaman-jaman 12-16 tahun yang lalu, jaman-jaman belum ngerti apa-apa, jaman-jaman ngompol sampai pup di kelas *ups, parah ya aku, hehe…* iya loh, pernah kejadian, ngompol di kelas itu kelas 1 SD, dan pup di kelas itu kelas 3 SD :)) wuakakak… tapi sayangnya bukan itu topik utama kali ini…

Jaman SD, ialah jaman dimana nilai matematikaku tidak pernah lebih dari 5, dan nilai pelajaran lain tidak lebih dari 6, dimana nama ‘matematika’ berganti menjadi ‘matek-matekan’ yang artinya ‘susah payah sampek mau mati’ yah kira-kira begitu deh bahasa indonesianya :p

Namun background bapak ibu yang guru mata pelajaran eksak, seperti matematika, fisika dan kimia, dan prestasi gemilang masku yang sampai ikut lomba matematika antar provinsi (woot) tidak menjadikanku untuk berusaha lebih lagi belajar mata pelajaran itu semua… huft…

Pastinya lah ya, orang mana sih yang gak malu, klo dia profesinya pengajar atau pendidik, tapi anaknya sendiri gak pinter kayak aku, hee… tapi tidak demikian dengan bapak, bapak tidak pernah menuntutku untuk menjadi sebaik, sepintar beliau, atau masku, bahkan ibu pun pernah menyidangku di kamar, bertiga sama bapak *mas sengaja taruh luar kamar agar tidak terjadi kesenjangan sosial antara si pintar dan si dodol, haha* dan saat itu ibu protes, kenapa aku dodol sekaliii, aku itu ceroboh, paling cepet ngerjainnya, tapi gak teliti, mesti gak teliti, jadinya mesti salah deh… dan ibuku berkata, mengapa gak niru masku yang pintar, atau bapakku yang pintar…

Saat itu aku protes ‘lah emang aku harus pintar kayak bapak dan mas ya?’ saat itu ibu bilang ‘iyalaaah, ibu bapak akan malu, klo semuanya pintar, kecuali kamu’ hehe pada umur segitu gak bakalan ngefek klo diomongin kayak gitu, gak tau deh klo umur sekarang diomongin kayak gitu :p tapi saat itu bapak cuma diam…

Keesokan harinya bapak membelikanku monopoli, ada yang gak tahu monopoli?? Itu lho uang-uangan, beli ini, beli itu, punya rumah dimana-mana :p bapak bilang, itu khusus buat aku supaya bisa itung-itungan, eh pada jaman gitu monopoli mahal kali, yah setidaknya bila dibandingkan dengan gaji guru non PNS alias honorer saat itu, jadi terharu… *kok baru sekarang ya terharunya…*

Dan masku mempunyai kewajiban untuk selalu mau menjadi partner main monopoliku, hahaha, aku senang sekali saat itu, awalnya memang susah sih, tapi karena fokusnya main, dan lawan mainnya masku, jadi orientasinya ialah ‘aku harus lebih kaya dari masku’ hehehe…

Lain hari bapak membelikanku alat menggambar, lengkap dengan cat dan kuasnya, oh my god, sejak kapan aku punya bakat menggambar dan melukis ya? :p tapi bapak mengajakku untuk melukis saat itu, sepertinya bapak berusaha mencari, sebenarnya bakatku itu dimana sih? Matematika nggak, nari nggak, senam apalagi, mungkin menggambar? Oh, mari saja kita coba :p dan hasil gambarku gak bisa dibilang cukup, tapi ‘mengenaskan’ =)) oke pak, bukan disitu ternyata bakatku…

Menjelang SMP, aku lulus dengan danem yang pas, pas 40.04 gak bagus2 amat, klo dibandingan sama danem masku yang 44 T.T (hampir 9 bo rata-ratanya… semakin terpuruk saja aku) dan Alhamdulillah bisa masuk SMP favorit di Mojokerto… pada saat itu bapak bilang ‘bapak gak akan nyuruh kamu belajar vin, kamu sudah SMP, sudah tahu kapan belajar kapan santai’ cuma itu lho, dan sekalipun aku gak pernah masuk 10 besar di kelas, bapak juga gak pernah negur aku…

Dan pada saat itulah, aku merasa bahwa bapak itu percaya sama aku, percaya klo aku bisa diandalkan, percaya klo aku bisa belajar sendiri, beda dengan waktu SD, dimana ada rasa ‘dipertanyakan’ kamu gak salah ta masuk keluarga ini? Serasa gak percaya klo aku itu bisa…

love you dad...

Mungkin lain bapak lain juga cara motivasinya, tapi aku merasa bahwa bapakku yang terbaik untukku, memotivasi dengan rasa percayanya, dan kini aku mengerti bahwa pintar itu cuma 1% given dari Tuhan, tapi 99% itu diperoleh dari usaha untuk bisa menjadi pintar, aku nggak cerdas kok, klo masku mungkin iya cerdas :p hee… cuma butuh modal mau belajar aja, semua orang bisa jadi pintar, dan satu lagi yang penting menurutku, ialah rasa percaya 🙂

Mungkin juga, hasilnya akan beda kali ya, klo bapakku dulu gak bilang gitu ke aku, dengan begitu sampai sekarang aku masih dipertanyakan ‘kamu anggota keluarga ini bukan sih vin?’ Karena aku paling dodol dan mungkin sampai sekarang memang aku masih paling dodol di keluargaku :p tapi setidaknya sekarang tidak ada lagi yang mempertanyakannya 😀

Sekilas cerita tentang my lovely dad… ada yang mau berbagi cerita kah? 😀

18 thoughts on “Arti sebuah kepercayaan…

  1. Mau komen.

    Jaman SD kan udah gak waktunya pup di kelas, Vien. Ckckckck….

    Btw, my dad is my hero, too…. Sayang beliau sudah berpulang. 🙂

  2. Danem SD boleh 40, tapi begitu lulus S1, ipk nyaris 4. Sigh.. Benar-benar menunjukkan kenaikan prestasi yang luar biasa. Orang tuamu pasti bangga nak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s