Welcome again :D

Assalamualaikum Wr. Wb.

Berulang kali saya membuat blog dan berulang kali pula saya lupa passwordnya 😀 hehe, karena banyak sekali hal diluar sana yang telah meminggirkan neuron ingatan mengenai password bahkan url dari blog saya sendiri sehingga saya harus googling hanya untuk mencari apa url nya.. hohoho, semoga hal ini tidak terulang lagi…

Ketika saya melihat blog saya sendiri, yang sudah saya tulis 2-3 tahun yang lalu, what’s a jerk! Jelek sekali tulisan saya, sangat tidak objektif, sangat subjektif tanpa pembuktian hipotesa manapun dan kesemuanya hanya asumsi pribadi saya… Hmm… manusia akan terus belajar kan? 🙂 dan akhirnya saya pun akan membuat tulisan baru disini 🙂

Sudah sejak lama saya menginginkan anak saya nanti akan saya berikan homeschooling saja, well… sekolah public saat ini terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari yang notabene tidak akan terpakai saat ia besar nanti… benarkah? Mari kita telaah satu persatu

  • Saat SD, saya mempunyai nilai yang buruk soal dikte, haha… saya lebih sering bercanda dengan teman sebangku saya daripada harus menuliskan apa yang dibacakan oleh guru SD saya saat itu 😀 sehingga nilai 5 terpampang di raport saya… mari kita telaah, mengapa guru SD dulu menyusun kurikulum ada dikte nya ya?
    Memang ketika saya besar nanti saya juga akan di ‘dikte’ oleh orang yang lebih tua atau guru atau dosen atau orang tua nanti? *mari kita jawab masing-masing di dalam hati masing-masing* (evilsmirk)Saya baru menyadari buat apa pelajaran dikte yang diberikan guru SD saya di sekolah dulu dan tentu saja hal ini akan berbeda dengan yang anda alami saat ini 🙂 pada suatu ketika seorang dosen berkata pada saya, bahwa saya harus mempersiapkan A, B, C dan D untuk persiapan pengajaran sebuah mata kuliah, dan saat itu saya tidak membawa satu alat tulis pun, sehingga saya hanya mencatatnya dalam hati dan ingatan saya…Well, tidak sampai 1 jam kemudian, hanya A dan C yang teringat, hmm… satu kompetensi yang saya dapat dalam pelajaran dikte, saya harus mencatat apa yang penting bagi saya dan orang lain bukan untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan saya sendiri…

    🙂 tidak mencatat saat dikte guru SD dulu, bukan untuk kepentingan guru SD saya waktu itu, bukan untuk kepentingan ibu atau bapak saya di rumah agar raport saya pada pelajaran dikte tidak merah dan tidak memalukan bagi bapak ibu, tapi untuk saya sendiri 🙂

  • Saat SMP, mata pelajaran UN saya mendapatkan nilai merah pada pelajaran PPKn, ada yang masih ingat apa kepanjangannya? Pendidikan err Pancasila dan Kewarganegaraan bukan? (CMIIW) Lalu bila nilai UN saya merah apa artinya saya bukan warganegara yang baik? Apakah saya tidak memegang azas-azas pancasila? Hohoho… mari kita ingat 5 sila dalam pancasila secara urut? Adakah yang masih mengingatnya (dengan catatan gak boleh googling) 😀 jujur saya pun tidak ingat sila kedua dalam pancasila itu apa?

    Lalu apa hubungannya dengan pasal-pasal dan susunan kabinet yang harus dihafalkan? (haha) karena saya mempunyai kelemahan dalam menghafal *sudah saya ceritakan pada point diatas* dan saya sangat berbakat untuk mengarang cerita, hehe… saya lebih suka menceritakan apa dan bagaimana penerapan pasal tersebut di dunia nyata, bukan isi dari pasal tersebut… contoh entah pasal berapa ada yang mengatakan bahwa ‘anak-anak miskin dan terlantar akan dipelihara oleh negara’ *redaksionalnya mungkin tidak begini* 😀

  • Saya lebih suka bercerita mengenai upaya-upaya pemerintah dalam membuat panti asuhan, panti wreda, dan panti-panti yang lain lalu bagaimana menpora akan memberdayakan pemuda yang ‘kurang beruntung’ dengan proker-prokernya…
    Dan sampai saat ini saya juga tidak bisa menghafal isi pasal tersebut… lalu buat apa kita belajar PPKn? Lalu buat apa kita menghafal susunan kabinet? Apa itu useless?

    Nope, seorang sahabat mengatakan pada saya, tidak akan ada ilmu yang tidak bermanfaat, yah meskipun pada akhirnya kita juga tahu, bahwa itu kurang bermanfaat (haha) berarti kita tahu kan mana yang lebih bermanfaat kan? 😀 yah paling tidak kita tahu klo di susunan kabinet Indonesia itu ada yang ngurusi keuangan ada yang ngurusin pendidikan ada yang ngurusin peran wanita, tentu saja semua itu dari kita dan untuk kita sendiri 🙂

  • Satu lagi, untuk apa kita menghitung medan magnet, menghitung gaya, menghitung berapa kalor yang akan dikeluarkan oleh reaksi kimia? Tentu saja ketika kita hendak memindah kursi, kita tidak menghitung berapa gaya untuk mengangkat kursi lalu kita menghitung berapa orang yang hendak kita mintai bantuan…

    Ilmu itu akan selalu berguna 🙂 tapi mungkin caranya dengan lebih aplikatif, contoh, yang berhubungan dengan medan magnet, bila kita mendekatkan besi dengan magnet dalam waktu yang lama akan terjadi induksi medan magnet (CMIIW) dan besi itu akan tertular magnet, maka sekarang jangan sering-sering mendekatkan benda-benda induktor dengan medan magnet, atau sekarang harus memakai sandal karet dengan keadaan badan kering agar tidak tersengat listrik, tentu saja kita tidak perlu menghitung berapa joule kita akan tersengat listrik, hitungan-hitungan tersebut hanya sebagai sarana untuk menunjukkan pada kita betapa listrik tersebut dapat mengalir dan dapat menghentikan atau menjalankan detak jantung kita dalam sesaat…

  • Seorang dosen yang saya hormati pun pernah bercerita dalam kelasnya *jujur saya dulu lebih suka mendengarkan cerita dan pengalaman dosen-dosen saya ketika mengajar dibandingkan harus mendengarkan materi* (haha) Einstein dengan rumusnya E = mc2 mengajarkan kita bahwa energi ialah massa dikali kecepatan kuadrat, well, lalu apakah kita akan menghitung berapa besar energy yang akan dikeluarkan ketika kita melambaikan tangan? Ketika kita memindahkan suatu massa dengan kecepatan tertentu? Wow menghitung kecepatan saja kita kesusahan dengan mata telanjang… apalagi harus nimbang dulu berapa massanya dan dikalikan dengan kecepatan kuadrat… ewww…

    Hehe, juga baru-baru ini saya mendengarkan sebuah pengarahan singkat dari seorang dosen saya juga, bahwa manusia itu harus dinamis, don’t just let go by the flow… make your own flow… hmm… klise… semua orang sudah tahu vin! Bahwa kita harus bergerak dinamis, karena akan ada energy yang akan ditimbulkan dari gerakan tersebut, dan energy yang akan kita timbulkan tidak akan pernah hilang, hanya berubah bentuk, semua yang telah kita lakukan entah positif atau negative tidak akan pernah hilang, hanya berubah bentuk…

Lalu mengapa kita harus berlaku negative? Karena energy negative yang kita timbulkan juga takkan pernah hilang, mengapa tidak kita lakukan hal yang positive agar energy yang kita timbulkan akan berubah bentuk menjadi yang positive pula?
Saya juga masih belajar, saya bukan orang yang benar, saya hanya berusaha memahami bahwa apa yang telah diajarkan kepada saya dari kecil sampai besar, tidak akan menjadi sia-sia dengan belajar…

Terima kasih, butuh masukan…

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s