A shoulder to cry on :)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Entah mengapa, saya orangnya sulit sekali untuk ‘mendiamkan’ orang yang dekat dengan saya, contoh : bapak, ibu, mas, mbak, dan sahabat saya, selalu saja ada perasaan bersalah ketika mendiamkan mereka yang menyayangi kita, sekalipun itu hanya 1 jam, 1 hari, selalu saja ada perasaan ingin berbaikan kembali. Apalagi bila setiap hari bertemu dengan orang tersebut…

Hal ini sangat berbeda bila terdapat orang yang membuat saya kecewa, namun orang tersebut tidak dekat, dan jarang ketemu, bagi saya, tidak ada perasaan bersalah sama sekali, karena yang ada dalam pikiran saya saat itu, ia yang telah membuat saya kecewa dan sedih, lalu mengapa harus saya yang merasa bersalah? Toh juga orang tersebut tidak berpengaruh penting bagi hidup saya dan menyayangi saya setiap saat. Bagi orang demikian, saya sangat sulit untuk memaafkan sampai pada waktu yang lama…

Sangat berkebalikan dengan paragraph pertama, padahal hanya satu variable yang mempengaruhi, yaitu kedekatan, entah itu kedekatan jarak atau kedekatan hati… sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya, mengapa demikian…

Ada juga bagian yang menarik dari kepribadian saya, pada umumnya, wanita akan segera memeluk sahabatnya bila sahabatnya dalam keadaan sedih, gundah dan sakit hati… sangat berbeda dengan saya, ketika sahabat saya sedih, menangis dan butuh shoulder to cry on, saya malah takut, saya bingung harus melakukan apa, saya terus berharap ‘semoga tidak jadi menangis’, karena jujur saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan ketika ada orang menangis…

Saya lebih suka mengajaknya untuk berdialog, ngobrol bareng atau lebih dikenal dengan curhat, dengan demikian sahabat saya tadi lebih lega, ketika menceritakan masalahnya, sekalipun belum ditemukan solusinya, saya lebih suka menjadi tong sampah daripada menjadi shoulder to cry on… 😀

IMHO, saya akan lebih menjadi berguna bila tidak jadi membuat sahabat saya, atau orang dekat saya menangis atau sedih, daripada harus menjadi orang tegar untuk tempat bersandar 😀 hehe, tapi jika saya menangis, saya akan lebih suka menyendiri dan dibiarkan, sampai saya tenang, lalu mari kita obrolkan apa yang membuat saya menangis

NB : 🙂 and you have done it for me 🙂 thank you to be my shoulder to cry on 🙂 …

Wassalamualaikum Wr. Wb.

3 thoughts on “A shoulder to cry on :)

  1. @mbak renny : yeee… 😀 emang paragraf deduktif, kalimat utamanya di akhir :p

    @mamas : IMHO means In My Humble Opinion, menurut pemikiran sederhana saya, ato boso jowone, ‘perasaku se’… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s