Pada awalnya, saya tidak memahami betapa pentingnya sebuah proses. Sampai pada suatu titik, saya trace back tahapan yang telah saya lalui dan saya tidak menemukan sebuah pembelajaran.

Mengapa? karena saya fokus pada durasi dan hasil SAJA. Saya melalui proses, IYA, saya mendapatkan hasil, IYA. Namun, proses yang berulang-ulang, proses kegagalan, proses untuk bangkit dari kegagalan, tidak pernah saya lalui. I was so proud of myself because I never failed.

Sepertinya, saya terlalu membanggakan HASIL dan DURASI sehingga lupa akan proses untuk mendapatkannya yang mungkin hanya satu kali shot. Lalu kenapa harus berproses berulang kali shot, kalau satu kali shot saja hasilnya sudah acceptable?

The whole processes will get you a master. You will be able to say “it is better to be done this way..” or “by doing with this way, you will get extra …”.. you will be able to advise yourself and a novice because you have both knowledge and experience.

I got the best mark on Statistics! both on my bachelor degree and on my supplemental course in this PhD. People will expect me confident with my statistical reasoning. But, that is not happening right now. I am dealing with statistical things but I don’t know what and how to solve this problem.

From this point, I feel that I lacked experience; I lacked tough statistical problems.

Now, I have to deal with calculus, derive a statistical formula from its roots. Proving that both are working and match or at least have less deviation between both sides. Persistence is not enough. You will have to enrich yourself with knowledge or tips from the master of Statistics. This gives me pain and tears on this Bank Holiday!

Glad that yesterday, I watched a movie series with my brother: Scorpion.

Elia said to Walter when his smart building is knocked down by a worm,

Walter, people think I’m some kind of brilliant visionary. But, the reason I’m successful is because, on the heels of defeat. Failure is part of process. You don’t know where you’re vulnerable until you fail.

——-

Never ever get so proud of your knowledge, until you can’t count how many times you’ve been defeated.

Dear Conditional probability on Epidemiology domain (i.e. Relative risks, Odds Ratios, Prevalence/Incidence), you knocked me down right now..
Congratulations!

Advertisements

Let it go..

This article is about letting go of something that really precious and expensive. So, I do not expect any comments judging or some of your stories that would make me feel more remorse than now. Just let me write and let it rests in peace.

Two days ago, my husband was watching a football match on the TV; I was taking a dinner dish for myself and Rania was happily dancing through the videos on the Youtube. Then, Suddenly I did not hear any music from the laptop. My husband lifted the Mac up and lots of water drops from it. No! Our poor Mac had been poured by a BOTTLE OF WATER. No other suspect than a little girl who was standing next to it while holding the empty bottle. I blinked for a second hoping that it was a dream.

We rushed to take off the casing, wiped it with a paper towel and put it next to the heater overnight with upside down position. We did not try to turn it on. We googled and looked for any possible ways to recover or to delay the water reach important parts.

How about Rania?

Well, she is not that innocent, that is the fact. We tried to tell her that by pouring water onto a laptop, cell phone, TV monitor is not acceptable. It makes them not working and as a consequence, she can not play any videos on Youtube. We explained this with low voice but deeply sad expression. I believe that she does not fully understand about the explanation but it does a make her remorseful until today.

These days after that incident, in the middle of the night, she wakes up crying and pointing the laptop casing. Usually, she wakes up only asking for a drink but now she completely gets up from the bed and cries. It doubles my pain.

Yesterday, we committed to sending the laptop to Compu-B to ask for a repair service. We take all consequences without warranty because it does not cover liquid damage. Last night they sent me the diagnostic result. The important parts can not be repaired and have to be replaced. Of course, we can not afford the cost, and today we collect it without any replacement.

Sad? Of course ..

That is the most expensive thing that we’ve ever had. But, I am grateful that I am not working with that, so all of my thesis are secure.

That is the first Mac we’ve ever owned. But, I am thankful that there is no electricity on at that moment so Rania was okay, remembering that she was holding a wet empty bottle.

That is a prize from my scholarship provider. Well, fortunately, I do not have to buy it with my own dime.

Well, maybe it is a ‘forceful’ way to detach Rania from the screen and look for other activities to spend time during the day.

Or perhaps, she needs more human-human interaction than before. So, she can have better social skills and bonding with other human or creatures.

I keep listing all the good things that may happen after this incident. This broke my heart, for sure. I have to let it go and take the lesson.

It is hard for Rania too, she knows nothing about this world and I should not let her lost in her guilty feeling. She copies me, so, this post might be the best artifact to remember that the Mac ever existed. We do not know when we could revive it.

Bye Mac, rest in peace ..

(Why don’t Rania pour water on to cushion or the floor or her mini wooden farm instead?)

(Or why don’t Rania pour flour instead of water on to our laptop?)

Really? I need to clear this from my mind šŸ™‚

*Singing No More Sad Songs – Little Mix*

Story of chasing you..

“The master has failed more times than the beginner has even tried”

– Stephen McCranie

I am not a master yet, even though I failed many times :))

This post only shows my ups and downs during PhD application, it had been started from 28 July 2013 until June 2015 when finally I got accepted by Trinity College, Dublin.

You may call me an ambitious, persistent and, of course, stubborn person šŸ˜€

snap47

So, this is my 2-year-journey summary to find a University that really suits me. I hope that you get a shorter duration to find your destiny šŸ™‚

Tahapan Memulai Riset

Cihhh, judulnya nggak nguati :p

Ini juga hasil diskusi dari teman lalu sekalian diposting public agar dapat dimanfaatkan banyak orang dengan gratis, terutama bagi calon2 researcher yang masih galau topik dan research questions šŸ˜€

Berikut lesson learned yang kudapat untuk scope penelitian kuantitatif di bidang Informatics dan Information Systems.. Monggo kerso untuk menambahkan..

Baca paper-paper 5 tahun terakhir. Kenapa? karena kita akan membuat something yang baru, belum ditemukan orang saat ini, dimana saat kita memulai riset, bisa jadi ada orang lain yang sudah akan selesai risetnya dan bersiap publikasi. Klo pas sama kembar dengan punya kita piye? Itulah, wkwkwk.. apes namanya..

Oleh karena itu biasanya common knowledgenya adalah 5 tahun terakhir. Untuk membatasi besarnya kemungkinan apes tersebut šŸ˜€

Baca paper yang berkualitas saja, eman2 waktu kita jika digunakan untuk membaca paper abal2 dan misleading. Cara paling gampang untuk membatasi paper ini adalah cari paper yang scopus indexed dan hindari proceeding.

Ini pasti nanya kenapa lagi kan? hehehehe.. biasanya proceeding adalah tempat publikasi yang bertujuan untuk menjaring aspirasi dari dialog langsung tatap muka. Sehingga kebanyakan (walaupun tidak semua) artikel yang diunggah di prosiding belum 100% jadi. Jika kita perhatikan benar2, akan banyak tipe artikel yang bisa diterima oleh suatu konferensi (prosiding adalah dokumen hasil konferensi). Termasuk diantaranya tipe doctoral consortium, short paper, literature review yang belum benar2 menunjukkan ‘penelitian’ mereka sesungguhnya. Ibaratnya, baru ujungnya doang.

Sedangkan apabila kita ingin mencari topik dan research question untuk tesis, kita idealnya akan mencari sesuatu yang sudah proven oleh experts lalu membangun pertanyaan dari situ. Maka, sebaiknya kita menggunakan Jurnal. Jurnal adalah kumpulan artikel (atau paper) yang diterbitkan secara reguler oleh suatu lembaga riset yang berpengalaman dan bebas kepentingan. Ha ha ha, lalu ngelirik Jurnal SISFO *pletak*

Scopus adalah suatu badan yang bertujuan untuk memilih jurnal2 yang berkualitas (pada umumnya, walaupun tidak selalu). At least, kalau sudah scopus indexed artinya sudah ada third party yang memberi cap ‘qualified’ pada artikel yang akan kita baca. Ini lumayan membantu kita yang awam untuk menyortir paper bagus dan tidak.

Trus saya jadi baper, karena paper yang saya publish belum ada yang scopus indexed *nangisdipojokan*

Pertama, baca judul, abstrak dan keyword.
Lalu tentukan apakah paper tersebut masuk kategori ‘layak disimpan’ atau ‘layak dibuang’ šŸ˜€
Kita sendiri sih yang bisa merasakan, apakah kira2 masuk dengan kesukaan kita atau tidak. Saya lebih menyarankan untuk membangun riset dari ‘preferensi’ ketimbang ‘trending’. Karena saya tidak tahan untuk tetap ‘utek-utek’ terhadap hal-hal yang tidak saya minati dari awal šŸ˜¦ Bagaimana dengan anda, saya yakin ada yang berbeda dan lebih memilih ‘trending’. FYI, sesuatu yang trending akan memudahkan kita untuk mencari paper, karena jumlahnya akan beragam termasuk metode dan kasus nyatanya šŸ™‚

Gunakan Reference Manager untuk membuat folder2 ‘layak disimpan’ dengan kategori2 tertentu. Saya menggunakan Mendeley Desktop App karena mudah dan UI nya simple ndak ngerepoti :p

– Sekarang anda sudah punya satu folder yang entah apa namanya, untuk menyimpan paper2 berkualitas dan ‘layak disimpan’. Amati nama Journal nya, liat volumenya (semakin besar angka volume semakin recommended, tandanya jurnal tersebut sudah tua dan berpengalaman di bidang tsb) please mark those journals.

– Ambil satu persatu jurnal dalam folder tersebut dan langsung jujug ke further research (saran penelitian berikutnya), ini terletak di sebelum daftar pustaka. Sekitaran conclusion. Cari permasalahan yang belum dia tackle, bisa jadi itu calon ‘gap’ untuk tesis kita.

– Butuh baca sekitaran 50-70 paper dan menemukan sekitaran 15-20an paper yang masuk folder ‘layak disimpan’ buat meyakinkan posisi riset kita. Bisa jadi lebih, klo topiknya umum dan banyak diminati.

– Jika sudah megang paper2 idaman, liat profil penulisnya, stalking google scholarnya, biasanya dia punya paper2 atau tulisan2 yang tidak dia publish namun jadi interest dia. Dimana interest dia sekarang sudah sama dengan interest kita šŸ™‚ šŸ™‚

Itu sih tipsnya, oya sama sering2 baca ini biar nggak jadi calon mahasiswa galau :p xixixi..

Adios!!

PhD Application Steps and Tips

Hari ini, Sabtu yang mendung, biasanya kalau mendung-mendung gini enak banget dipakai buat ngelab di kampus yang anget šŸ˜€
Tapi, hari ini saya memutuskan untuk ngandang saja di kamar, buat menulis-nulis lalu siap melompat main di taman bersama Rania bila cuaca cerah.

Beberapa hari ini saya mendapat permintaan dari teman untuk menuliskan step dan kiat bagaimana bisa sekolah S3 di luar Indonesia dengan dibiayai oleh sponsor (beasiswa). Jadi, mumpung sudah ditulis, mending di post public sekalian šŸ˜€

Disclaimer: apa yang ditulis disini tidak mutlak benar, ini hanya satu path yang saya alami dari sekian banyak kemungkinan paths untuk mencapai tujuan yang sama. Be open and ready for any changes! Because your world will never be the same again..

Continue reading

Do you believe in luck?

Apakah anda percaya akan adanya nasib baik?
Saya percaya bahwa nasib baik adalah interseksi antara ilmu probabilitas, usaha keras dan doa dari niat yang tulus. Dua kali ini kami dikaruniai nasib baik, Alhamdulillah.

Nasib baik pertama ketika kami berpergian naik bus 17 jurusan Rialto untuk berbelanja mingguan. Seperti biasa ketika berangkat, ayah menggendong Rania, dan Bunda membawa tas ransel dan karung goni kosong untuk wadah belanjaan *guys, ini beneran karung goni, bukan majas litotes* šŸ˜€

Terkadang, Rania sangat anteng di bis, atau bisa jadi ia sangat aktif (red: nangis teriak2) dikala bosan. Saat itu, dia lumayan aktif sehingga kami tidak sadar bahwa kartu leap untuk transportasi bis punya ayah terjatuh di kolong kursi bis. Saat turun dari bis pun, tidak ada penumpang yang tahu dan kami pun juga tidak tahu >_<

Setelah berbelanja selama sekitar 40 menit, kami menaiki bis nomor yang sama namun arah berkebalikan untuk mengantar kami pulang ke rumah. Bis sudah terlihat di depan mata, kami mulai menyiapkan kartu bis. Disitulah kami mulai sadar bahwa kartu bis ayah sudah raib. Cek koin, ada. Yasudah, berniat untuk bayar bis menggunakan koin saja. Kami bersiap untuk mengurus klaim kartu leap sesampainya di rumah.

Saat naik ke bis, bapak sopir berambut putih yang familiar itu menunjukkan kartu leap ayah di depan ruang sopirnya sambil tersenyum lebar šŸ˜€ Whattt, ternyata bis yang kita naiki saat berangkat dan pulang adalah sama. Plus, sopirnya masih mengenali kami dari foto di kartu leap bis yang terjatuh di bis nya ketika berangkat belanja. Plus, kami tidak jadi mengurus klaim kartu leap. Plus, sekarang kami jadi selalu teringat dengan bapak sopir berambut putih yang sukanya tersenyum lebar bila melihat kami šŸ˜€

Nasib baik? Yap!

Mungkin beda cerita bila kami berbelanja terlalu cepat atau terlalu lama sehingga tidak berjodoh dengan bapak sopir tersebut.

Mungkin beda cerita bila tidak ada orang baik yang menemukan kartu leap jatuh dan memberikannya ke bapak sopir. Banyak kasus juga sih, setelah ditemukan kartunya, malah dipakai sendiri saldonya oleh si penemu.

Mungkin beda cerita bila ayah dari awal tidak memasang fotonya di kartu leap, sehingga tidak dapat dikenali milik siapa kartu tersebut. ^_^

Nasib baik kedua, kami alami dua hari ini. Ceritanya, setiap warganegara non EU diwajibkan memperpanjang izin tinggal di Irlandia setiap periode waktu tertentu. Untuk kami, setiap tahun harus melapor diri dan memperpanjang izin tinggal. Pengalaman dari tahun kemarin, satu antrian online hanya berlaku untuk satu nama, sehingga kami mengambil dua tiket antrian online di hari yang berbeda. Antrian online bertujuan untuk memilih tanggal saja, sedangkan di hari H nya nanti, ada antrian fisik yang bertujuan untuk mengantri di bilik administrasi.

Antrian online tahun ini dikelola oleh kepolisian langsung, berbeda dengan tahun kemarin yang dikelola oleh kampus, sehingga kami tidak bisa berdiskusi dengan leluasa kapan tanggal yang bisa kami ambil. Sialnya, ayah Rania sebagai dependant saya, justru dapat tiket antrian yang 2 hari lebih awal daripada saya yaitu tanggal 18. Selain itu, saya tidak dapat mengambil antrian lagi untuk tanggal yang lebih awal dari tanggal 18, bila antrian ayah yang saya mundurkan setelah tanggal 20, maka kami tidak masuk range tanggal memperbarui kartu (dalam durasi 2 minggu sebelum due date tanggal 31 okt), opsinya bisa jadi denda atau mengurus visa ulang atau entahlah >_< Sehingga yasudahlah, kami mengambil 2 tiket tersebut dan pasrah di hari H yaitu tanggal 18 dan 20.

Dua hari yang lalu, kami mulai datang ke kantor kepolisian dan benar saja dugaan kami bahwa dependant (ayah) tidak bisa renew kartu sebelum the principal (saya). Kami meminta solusi kepada pegawai imigrasi karena oleh sistem, kami diberi tanggal yang berbeda dan susunannya begitu padahal jelas2 sudah mengentrykan siapa dependent kepada siapa. Kami diminta menunggu sekitar 5 menit, pegawai tersebut berkonsultasi dengan seniornya. Akhirnya, kami diberi solusi untuk menukar antrian, sehingga saya didaftarkan dengan antrian atas nama ayah pada tanggal 18, dan kami harus kembali lagi tanggal 20 untuk mendaftarkan ayah dengan menggunakan nama saya. Pegawai tersebut sudah mengambil nomor antrian saya, sehingga hanya tersisa antrian ayah saja (tertanggal 18) untuk dipakai tanggal 20 nanti. Mana bisaa??

Pegawai tersebut cuma bilang kalau kami harus bisa menjelaskan duduk permasalahan ini kepada officer yang akan menangani registrasi kami dua hari lagi. Glek! Dengan bahasa inggris kami yang belepotan dan harus menggunakan grammar past tense dan future tense dengan perfect, otherwise officernya bisa pusing tujuh keliling dan tidak membolehkan kami registrasi ulang. Ohmy šŸ˜¦ Yasudahlah..

Two days later, which is today!
Saya mengeprint ulang nomor antrian online saya yang sudah dibawa ama officer 2 hari yang lalu. Nekat!
Karena kami tahu ada 2 lapis registrasi, di pintu depan untuk ambil antrian fisik, dan di koridor utama untuk cek administrasi dan berkas. Saya cuma bermodal keyakinan kalau sistem antrian fisik dan sistem renew izin tinggal belum terintegrasi. Sehingga di tanggal 20 itu masih kecatat nama saya di antrian, walaupun saya sudah diregister tanggal 18. Gambling sih, klo udah integrated gimana? Worst casenya cuma disangka ngeluarin kertas antrian online yang salah šŸ˜€
Tinggal keluarin aja kertas antrian ayah yang tanggal 18 trus explain panjang lebar ke bapak petugas antrian fisik di depan soal masalah 2 hari yang lalu šŸ˜€

Masalah bapak petugas antrian fisik di depan, alhamdulillah mulus. Bener dugaan kami bahwa sistem antrian online dan renew izin tinggal belum terintegrasi šŸ˜‰

Babak kedua, petugas administrasi dan berkas di koridor utama. Ini orang2nya lebih kuat dan jeli sih. Mmmm… pasrah ajalah, lagian kami masih ingat betul bapak yang menukar antrian kami 2 hari yang lalu. Kalau beliau ndak paham dengan penjelasan kami, yah tinggal tunjuk bapak yang kemarin saja šŸ˜€ hahaha..

Kami dapat nomor antrian fisik 100, lucky number, masuk ke bilik nomor 4. Pas masuk ke bilik nomor 4, whaaattt… officernya adalah bapak yang sama dengan 2 hari yang lalu!! How come? disana ada 12 bilik sodara2, bagaimana bisahh??

Kami bersuka cita, dan tanya ke bapaknya “do you still remember us?” awalnya bapaknya bingung dan coba mengingat2, yaiyalah sehari bisa ngurusin 50 orang kalee.. ini 2 hari yang lalu, it means 100 people! Pada akhirnya bapaknya ingat kami dan kami gak harus explain panjang lebar apalagi sampai otot-ototan šŸ˜€ šŸ˜€ šŸ˜€

Alhamdulillah semua lancar dan tersenyum dengan lebar..

Nasib baik lagi?? Yap2!
Mungkin beda cerita kalau kami datangnya terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga nggak dapet antrian nomor 100.
Mungkin beda cerita kalau kinerja officer di bilik2 lain terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga antrian nomor 100 tidak jatuh di bilik nomor 4.
Mungkin beda cerita kalau bapaknya hari ini nggak duduk di kursi nomor 4.
Kalau mau dirunut, akan banyak peluang dari kemungkinan2 yang lain yang tidak terhingga banyaknya variabel bebasnya šŸ™‚

Namun saya tetap yakin bahwa ini adalah hasil doa dari orang-orang terkasih kami nun jauh disana, sehingga Allah menakdirkan nasib mujur seperti ini.

Alhamdulillah

šŸ™‚

One year in Dublin

Tepat pada hari ini setahun yang lalu, kami bertiga bermodal nekat berangkat dini hari dari Surabaya menuju Dublin.

Bagaimana tidak dibilang nekat? saat itu, kami baru saja menimang bayi kecil yang masih baru genap 3 bulan dengan berat badan sekitar 5kg. Bayi yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya setelah 2 tahun usia pernikahan kami.

Bagaimana tidak dibilang nekat? saat itu, semua biaya transportasi dan akomodasi masih nol dari penyedia beasiswa, dimana hanya Allah saja yang tahu apakah penyedia beasiswa ini akan amanah dengan memberi reimburse atau tidak. Sementara proses seleksi hanya sebatas administrasi dan kelengkapan dokumen via email saja, tidak pernah ada tatap muka dengan pemberi beasiswa. Alamat korespondensi pun tidak ada yang berada di Indonesia, paling dekat Saudi Arabia atau Amerika Serikat. Kalau pun ada apa-apa, kami hanya bisa mengadu kepada sajadah saja.

Setahun lamanya di kota ini, kami tidak pernah berpergian jauh ke luar kota. Ingin sekali rasanya kami berkelana mendaki gunung, melihat national park di kota seberang, atau mengunjungi sanak saudara baru setanah air disini. Namun, keinginan itu selalu saja terkalahkan oleh hitung-hitungan uang, dinginnya suhu atau tugas-tugas yang menumpuk. Paling jauh, kami hanya mengunjungi pantai di distrik perbatasan kota dublin. Sebutlah kami kuper, terlalu hemat atau terlalu banyak perhitungan untuk melangkah jauh, kami sudah biasa.

Tujuan dari awal kami melangkah kemari hanya untuk melihat dunia, bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya hanya bisa kami lihat di layar kaca, melihat bahwa ada manusia bermata biru, berambut pirang, berbahasa baru.

Kami tidak kaya, tidak pintar, juga tidak bijak. Kami sering salah mengira, salah melangkah, salah menerka. Kami hanyalah anak-anak pembelajar kehidupan duniawi yang mencoba melihat dari berbagai sisi, walaupun terkadang buram dan tak selamanya senang.

Seringkali orang melihat bahwa kami selamanya bahagia telah menjejakkan kaki kemari. Kami hanya bisa tersenyum mengamini. Lantas pada akhirnya, mereka juga tahu bahwa kami sebenarnya sama saja, hanya saja lebih sering ditempa atau mungkin, bisa juga tidak.

Ini hanya catatan kecil dari kami, yang tepat setahun kami jauh dari ibu pertiwi.

12042668_10206972956235964_5413629389336979471_n

:*

We only have each other, just you and me, what are we gonna do?
Do you want to build a snowman?